10 Puisi Tentang Hidup
Kumpulan puisi tentang hidup, perjuangan, waktu, harapan, dan kemanusiaan dengan nuansa deklamatoris yang kuat dan reflektif.
1. Hidup Adalah Jalan yang Berdebu
Hidup adalah jalan yang berdebu.
Kita berjalan di atasnya
dengan sepatu yang sobek,
dengan harapan yang kadang lebih tipis
daripada uang di saku.
Tetapi matahari tetap terbit.
Burung-burung tetap bernyanyi.
Dan anak-anak tetap berlari
mengejar layang-layang di langit.
Maka berjalanlah.
Karena hidup bukan soal
seberapa sering kau jatuh,
melainkan seberapa keras
kau menolak menjadi tanah.
2. Kepada Mereka yang Kalah
Kepada mereka yang kalah,
aku angkat topi.
Sebab kemenangan sering dirayakan,
tetapi kekalahanlah
yang mengajari manusia
cara menata luka.
Kalian yang pulang
dengan tangan kosong,
jangan malu.
Kadang-kadang
orang yang paling miskin di dunia
adalah mereka yang menang
tetapi kehilangan nurani.
3. Kota yang Tak Pernah Tidur
Kota ini tak pernah tidur.
Lampu-lampu berjaga
seperti mata raksasa
yang mengawasi manusia
berlari mengejar angka.
Di trotoar,
seorang lelaki tua menjual mimpi
dalam bentuk koran bekas.
Di gedung tinggi,
orang-orang menjual hidupnya
demi kursi dan jabatan.
Dan malam bertanya:
siapa yang sesungguhnya kaya?
4. Doa Orang Biasa
Orang biasa tidak meminta istana.
Ia hanya ingin anaknya kenyang.
Ia hanya ingin istrinya tersenyum.
Ia hanya ingin hujan turun
ketika sawah mulai retak.
Tetapi lihatlah—
betapa sering doa sederhana itu
harus mendaki gunung birokrasi
yang lebih tinggi daripada awan.
5. Aku Belajar dari Sungai
Aku belajar dari sungai.
Ia tidak marah
ketika batu menghadangnya.
Ia tidak menangis
ketika tanah mengeruhkan airnya.
Ia terus mengalir.
Dan pada akhirnya,
laut menerima seluruh perjalanan itu
tanpa bertanya
berapa banyak luka yang dibawa.
6. Surat untuk Masa Depan
Wahai masa depan,
aku tidak tahu wajahmu.
Mungkin kau datang
membawa bunga.
Mungkin kau datang
membawa badai.
Tetapi aku akan tetap membuka pintu.
Sebab manusia yang hidup
bukanlah manusia yang bebas dari takut,
melainkan manusia yang berani
berjalan bersama ketakutannya.
7. Tentang Waktu
Waktu adalah pencuri
yang paling sopan.
Ia tidak mendobrak pintu.
Ia tidak mengancam.
Ia hanya datang diam-diam
mengambil masa muda,
mengambil kekuatan,
mengambil rambut hitam
dan menggantinya dengan perak.
Ketika kita sadar,
yang tersisa hanyalah kenangan
dan pertanyaan:
sudahkah kita benar-benar hidup?
8. Lelaki di Cermin
Pagi ini aku melihat
seorang lelaki di cermin.
Matanya lelah.
Bahunya berat.
Tetapi di dalam dadanya
masih ada api kecil
yang menolak padam.
Aku tersenyum kepadanya.
Karena aku tahu,
selama api itu hidup,
harapan masih memiliki rumah.
9. Negeri yang Menunggu
Negeri ini sedang menunggu.
Menunggu guru yang jujur.
Menunggu pemimpin yang mendengar.
Menunggu rakyat yang tidak mudah menyerah.
Tetapi negeri bukanlah gedung.
Bukan bendera.
Bukan pidato.
Negeri adalah kita.
Dan masa depan tidak akan datang
jika kita hanya duduk
menjadi penonton sejarah.
10. Sebelum Senja Terakhir
Sebelum senja terakhir tiba,
aku ingin berkata:
Aku pernah mencintai hidup ini.
Meski ia keras.
Meski ia sering pelit
memberikan kebahagiaan.
Aku pernah tertawa,
pernah menangis,
pernah jatuh,
pernah bangkit.
Dan itu sudah cukup.
Karena manusia tidak diukur
dari panjang umurnya,
melainkan dari keberaniannya
menjadi manusia.