Lelaki Tua dan Atap yang Retak: Nestapa di Ambang Runtuhnya Sebuah Taman Baca


Lelaki Tua dan Atap yang Retak: Nestapa di Ambang Runtuhnya Sebuah Taman Baca

Gerimis jatuh tipis-tipis di atas atap seng yang sudah berkarat, menciptakan irama monoton yang seolah-olah sedang menghitung detak jantung Pak Hamdan yang kian melambat. Di sudut teras rumahnya yang sempit, sebuah papan kayu yang catnya sudah mengelupas masih berdiri dengan angkuh, meski miring beberapa derajat. Di sana tertulis: "Taman Baca Cahaya Harapan". Namun, bagi siapa pun yang melintas di gang sempit di pinggiran kota itu, harapan adalah kata yang terlalu mewah untuk disandingkan dengan bangunan yang tampak sedang bersiap-siap untuk rebah ke tanah.

Pak Hamdan duduk di kursi rotan yang salah satu kakinya sudah diganjal dengan potongan bata. Tangannya yang gemetar memegang sebuah buku tua karya pengarang klasik Rusia yang sampulnya sudah lembap. Baginya, setiap buku di rak kayu yang mulai dimakan rayap itu adalah nyawa yang terperangkap dalam kertas. Ia merasa bertanggung jawab atas keselamatan mereka, meski ia sendiri sering lupa kapan terakhir kali ia makan dengan layak.

Lelaki Tua dan Atap yang Retak: Nestapa di Ambang Runtuhnya Sebuah Taman Baca
Lelaki Tua dan Atap yang Retak: Nestapa di Ambang Runtuhnya Sebuah Taman Baca

Beberapa hari yang lalu, rayap-rayap itu tampak lebih agresif. Pak Hamdan bisa mendengar suara kunyahan halus mereka di tengah malam yang sunyi, seperti suara jam pasir yang menandakan waktu bagi taman bacaan ini hampir habis. Ia ingin membeli obat anti rayap, atau setidaknya beberapa lembar seng baru untuk menambal kebocoran yang membuat koleksi buku puisinya hancur menjadi bubur kertas setiap kali hujan lebat datang. Namun, pensiunannya sebagai pegawai rendahan di kantor pos dulu hanya cukup untuk teh tawar dan sedikit nasi liwet.

Pertemuan di Balik Debu Rak Buku

Suatu sore, ketika matahari terik baru saja menyerah pada awan mendung, seorang pemuda dengan pakaian rapi dan kacamata tebal masuk ke teras itu. Langkah kakinya ragu-ragu, seolah takut lantai kayu yang keropos akan menjebloskannya ke bawah. Pak Hamdan menatapnya dengan pandangan kosong, namun ada sedikit kilatan di matanya yang keruh.

"Apa masih buka, Pak?" tanya pemuda itu. Suaranya terdengar terlalu nyaring di antara kesunyian buku-buku.

"Buka itu urusan pintu, Nak. Di sini tidak ada pintu, jadi selalu terbuka," jawab Pak Hamdan sambil menutup bukunya pelan. Ia tidak ingin debu di sampul buku itu mengotori kemeja bersih si pemuda.

Pemuda itu tersenyum canggung. Namanya Aris, seorang lulusan sarjana pendidikan yang sedang mencari referensi untuk tulisannya tentang literasi di daerah kumuh. Ia memandangi deretan buku yang tersusun acak. Di sana ada novel-novel lama, ensiklopedia yang sudah kehilangan beberapa volume, hingga buku petunjuk bercocok tanam yang sudah tidak relevan. Meski kondisinya memprihatinkan, ia bisa melihat bahwa buku-buku di sini sebenarnya adalah bacaan yang berkualitas pada masanya.

"Pak, apa tidak ada bantuan dari pemerintah setempat? Bangunan ini... maaf, kelihatannya berbahaya jika tetap digunakan," ujar Aris sambil menunjuk plafon yang melengkung karena air hujan yang terperangkap.

Pak Hamdan terkekeh, sebuah suara kering yang lebih mirip batuk. "Bantuan? Mereka pernah datang sekali, dua tahun lalu. Memotret saya di depan papan nama itu, memberikan satu kardus buku tentang cara menjadi kaya secara instan, lalu pergi. Katanya akan ada renovasi. Tapi saya rasa, kamera mereka lebih cepat bekerja daripada tangan mereka."

Aris terdiam. Ia merasa ada beban yang tiba-tiba menindih pundaknya. Ia datang untuk mencari data, namun ia malah menemukan sebuah tragedi yang tenang. Ia mengambil sebuah buku dari rak, sebuah kumpulan cerpen yang sudah sangat kuning kertasnya. "Boleh saya pinjam ini, Pak?"

"Bawa saja. Tapi kalau kau tidak mengembalikannya, jangan merasa bersalah. Kadang-kadang buku lebih aman di tangan pencuri daripada di bawah atap yang bocor ini," kata Pak Hamdan dengan ironi yang halus.

Ironi di Balik Secangkir Teh

Minggu demi minggu berlalu. Aris menjadi satu-satunya pengunjung tetap di Taman Baca Cahaya Harapan. Ia sering membawakan Pak Hamdan roti atau martabak, yang selalu diterima dengan rasa terima kasih yang singkat namun tulus. Di sela-sela waktu itu, Aris mencoba menggalang dana melalui media sosial. Ia mengambil foto-foto dramatis tentang atap yang bocor dan wajah keriput Pak Hamdan, berharap keajaiban internet akan menyelamatkan tempat itu.

Suatu hari, seorang pejabat daerah datang bersama beberapa orang pengawal dan wartawan. Mereka turun dari mobil mewah yang tampak terlalu mengkilap untuk gang yang berdebu itu. Pak Hamdan hanya menonton dari kursinya, tidak beranjak, seolah kehadiran orang-orang besar itu hanyalah gangguan cuaca biasa.

"Kita harus memastikan bahwa literasi di wilayah ini tetap terjaga dengan sarana yang berkualitas," ujar pejabat itu dengan nada bicara yang sudah terlatih di depan kamera. Ia menyerahkan sebuah plakat penghargaan kepada Pak Hamdan, yang menerimanya dengan tangan yang seolah-olah sedang memegang sepotong kayu bakar yang basah.

Setelah sesi foto berakhir, pejabat itu mendekati Pak Hamdan dan berbisik, "Pak, sebenarnya lahan ini sudah masuk rencana pelebaran jalan. Tapi jangan khawatir, kami akan merelokasi buku-buku ini ke gedung perpustakaan kota yang baru. Di sana lebih aman dan nyaman."

Pak Hamdan menatap mata pejabat itu dalam-dalam. "Di sana ada jiwa juga, Pak? Di sini, buku-buku ini bernapas bersama saya. Kalau dipindahkan ke gedung beton yang dingin itu, mereka hanya akan jadi pajangan yang tidak pernah disentuh."

Pejabat itu hanya tersenyum simpul, jenis senyum yang digunakan orang dewasa saat menenangkan anak kecil yang sedang berimajinasi. Tak lama kemudian, mereka pergi. Meninggalkan debu knalpot yang membuat Pak Hamdan terbatuk-batuk.

Runtuhnya Harapan

Malam itu, badai besar menghantam kota. Angin bertiup kencang, menggoyang dahan-dahan pohon mangga tua di samping rumah Pak Hamdan. Suara kayu yang berderit semakin keras. Pak Hamdan tidak bisa tidur. Ia bangkit dari tempat tidurnya, menyeret kakinya menuju teras. Ia melihat air mengucur deras dari plafon, tepat di atas rak buku yang berisi koleksi kesayangannya.

Dengan sisa-sisa kekuatannya, ia mencoba menggeser rak kayu itu. Namun rak itu terlalu berat, dan kayu dasarnya sudah lapuk. Tiba-tiba, terdengar suara *prakkk* yang sangat keras. Salah satu tiang penyangga utama teras itu patah. Atap seng di atasnya mulai merosot, menekan rak buku hingga hancur berkeping-keping.

Pak Hamdan jatuh terduduk di lantai yang basah. Di sekelilingnya, buku-buku yang ia cintai berserakan, tertimpa reruntuhan kayu dan seng. Air hujan membasahi lembaran-lembaran kertas itu, menghapus tinta-tinta yang berisi kebijaksanaan manusia selama berabad-abad. Ia tidak menangis. Ia hanya menatap sebuah buku yang terbuka di dekat kakinya. Halamannya yang basah menampilkan sebuah paragraf tentang kesia-siaan hidup manusia.

Keesokan harinya, Aris datang dengan wajah ceria. Ia membawa kabar bahwa donasi yang ia kumpulkan sudah cukup untuk memperbaiki atap dan membeli rak baru yang berkualitas. Namun langkahnya terhenti di depan gang. Ia melihat kerumunan orang di depan rumah Pak Hamdan.

Teras itu sudah rata dengan tanah. Beberapa orang terlihat sedang memunguti sisa-sisa kayu untuk dijadikan kayu bakar. Pak Hamdan tidak ada di sana. Seorang tetangga mengatakan bahwa lelaki tua itu sudah dibawa oleh anaknya ke desa, setelah pingsan melihat taman bacaannya hancur total.

Aris berdiri mematung di antara puing-puing. Ia melihat papan nama "Taman Baca Cahaya Harapan" tergeletak di selokan, kotor oleh lumpur. Ia ingin marah, tapi tidak tahu kepada siapa. Ia ingin menangis, tapi ia merasa air matanya tidak akan mampu mengeringkan buku-buku yang sudah hancur itu.

Di bawah tumpukan seng yang bengkok, ia melihat sebuah buku kecil yang masih utuh. Ia mengambilnya, membersihkan lumpurnya dengan ujung bajunya. Ternyata itu adalah buku catatan harian Pak Hamdan. Di halaman terakhir, tertulis sebuah kalimat dengan tulisan tangan yang gemetar: *“Dunia tidak butuh lebih banyak buku, ia hanya butuh sedikit lebih banyak orang yang mau mendengarkan sunyi.”*

Kesunyian yang Abadi

Beberapa bulan kemudian, jalan di gang itu akhirnya dilebarkan. Rumah Pak Hamdan dihancurkan sepenuhnya. Tidak ada lagi jejak bahwa pernah ada sebuah taman bacaan di sana. Aris kini bekerja sebagai guru di sebuah sekolah swasta mewah di pusat kota. Di ruang kelasnya yang ber-AC, tersedia perpustakaan dengan koleksi buku yang sangat berkualitas dan mahal. Namun, setiap kali ia melihat murid-muridnya lebih asyik dengan gawai mereka daripada menyentuh buku, ia selalu teringat pada Pak Hamdan.

Kadang-kadang, saat hujan turun, Aris akan duduk di depan jendela kantornya, menatap tetesan air yang jatuh di kaca. Ia sering bertanya-tanya, di mana Pak Hamdan sekarang? Apakah ia masih menyimpan buku di bawah bantalnya? Ataukah ia sudah benar-benar menyerah pada kesunyian yang selama ini ia pelihara?

Ia menyadari bahwa perjuangan literasi di daerah bukan sekadar soal menyediakan bangunan yang megah atau buku-buku baru. Ini adalah soal melawan waktu, melawan rayap-rayap ketidakpedulian yang menggerogoti jiwa sebuah masyarakat jauh sebelum bangunan fisiknya runtuh. Ironi terbesarnya adalah, ketika semua orang berteriak tentang pentingnya membaca, tidak ada yang benar-benar peduli pada satu-satunya orang yang memberikan hidupnya untuk menjaga kata-kata tetap hidup di sebuah sudut kota yang terlupakan.

Di atas mejanya, buku catatan Pak Hamdan masih tersimpan rapi. Aris tidak pernah membukanya lagi. Baginya, buku itu bukan lagi sumber pengetahuan, melainkan sebuah nisan bagi harapan yang mati sebelum sempat tumbuh dewasa. Di luar, suara klakson kendaraan di jalan baru yang lebar terdengar bersahutan, menenggelamkan suara gerimis yang dulu pernah menjadi musik bagi sebuah taman bacaan yang kini hanya tinggal kenangan pahit di benak seorang pemuda.

Hidup terus berjalan, gedung-gedung baru terus tumbuh, dan kemajuan diteriakkan di mana-mana. Namun di bawah tanah yang kini telah dibeton rapi itu, mungkin masih tersisa satu dua lembar kertas dari buku Pak Hamdan yang membeku, menyimpan rahasia tentang sebuah cahaya yang pernah mencoba melawan kegelapan, namun akhirnya harus padam dalam kesunyian yang paling dingin. Begitulah cara dunia bekerja; yang lunak akan digerus oleh yang keras, dan yang tulus akan selalu kalah oleh mereka yang hanya butuh sebuah foto untuk pencitraan.

Aris menutup matanya sejenak. Ia merasa seolah mendengar suara derit kayu yang patah, sekali lagi, jauh di dalam lubuk hatinya. Dan ia tahu, luka itu tidak akan pernah benar-benar sembuh selama ia masih bisa melihat buku yang tertutup debu, atau atap yang mulai retak di mana pun ia berada.

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال