Lelaki yang Menanam Buku di Atas Batu: Kisah Sunyi Pegiat Literasi di Daerah

Lelaki yang Menanam Buku di Atas Batu: Kisah Sunyi Pegiat Literasi di Daerah

Matahari di kota kecil ini selalu terasa lebih dekat ke ubun-ubun daripada di tempat lain. Aris berdiri di teras rumahnya yang merangkap sebagai taman bacaan, menatap debu-debu jalanan yang beterbangan setiap kali truk pengangkut sawit melintas. Di rak kayu yang mulai dimakan rayap di sudut teras, buku-buku berjejer seperti barisan prajurit tua yang terlupakan. Sampul-sampulnya yang memudar seolah berteriak meminta perhatian, namun suara mesin truk jauh lebih bising.

Aris menyeka keringat di dahinya dengan sapu tangan yang sudah kusam. Ia baru saja selesai menata kembali koleksi puisinya. Baginya, setiap buku adalah nafas, namun bagi tetangganya, buku hanyalah tumpukan kertas yang bagus untuk membungkus cabai atau alas duduk saat kenduri. Ia teringat kata-kata Pak RT kemarin sore, "Aris, buat apa kamu simpan kertas-kertas itu? Lebih baik terasmu ini dipakai buat jemur kakao, lebih jelas hasilnya."

Lelaki yang Menanam Buku di Atas Batu: Kisah Sunyi Pegiat Literasi di Daerah
Lelaki yang Menanam Buku di Atas Batu: Kisah Sunyi Pegiat Literasi di Daerah

Ia tidak marah. Di tempat seperti ini, kemarahan adalah kemewahan yang sia-sia. Ia hanya tersenyum tipis, jenis senyum yang sering muncul pada wajah orang-orang yang sudah lama menyerah pada keadaan namun tetap menolak untuk berhenti. Baginya, menyediakan bacaan yang berkualitas adalah bentuk perlawanan paling sunyi terhadap ketidaktahuan yang mengepung kotanya.

Sunyi di Antara Rak Kayu

Siang itu, jam dinding berdetak malas. Istrinya, Sarah, keluar membawa segelas teh hangat yang uapnya langsung kalah oleh suhu udara. Ia meletakkan gelas itu di meja kecil, tepat di samping sebuah novel tebal yang terbuka di halaman tengah. Sarah menatap suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan—antara kasihan, lelah, dan cinta yang tersisa sedikit.

"Belum ada yang datang hari ini?" tanya Sarah lembut, meski ia sudah tahu jawabannya. Sejak taman bacaan ini dibuka tiga tahun lalu, pengunjung yang datang bisa dihitung dengan jari sebelah tangan dalam seminggu.

"Tadi ada anak kecil, si Togar. Tapi dia cuma numpang tanya jam berapa sekarang," jawab Aris sambil menyesap tehnya. Rasanya sepat, sama seperti suasana hatinya.

"Mungkin benar kata orang-orang, Ris. Orang sini butuh makan, bukan butuh cerita tentang orang-orang di Eropa atau filsafat tentang eksistensi. Mereka butuh tahu bagaimana caranya supaya pupuk tidak mahal," sahut Sarah. Ia mulai menyapu lantai teras yang selalu kotor oleh debu jalanan.

Aris terdiam. Ia memandangi sebuah buku karya Chekhov yang tergeletak di meja. Ia merasa seperti salah satu tokoh dalam cerita pendek penulis Rusia itu—terperangkap dalam rutinitas yang membosankan di sebuah provinsi yang jauh dari peradaban, dikelilingi oleh orang-orang yang hanya peduli pada urusan perut dan cuaca. Ia ingin menciptakan ekosistem baca yang berkualitas, namun ia merasa seperti sedang menanam benih di atas batu karang.

"Buku bukan cuma soal pengetahuan, Sar. Ini soal cara kita melihat dunia. Supaya pikiran kita tidak sempit seperti gang di pasar itu," gumam Aris, lebih kepada dirinya sendiri.

Sarah tidak menjawab. Suara sapunya yang menggesek lantai semen menjadi satu-satunya dialog di antara mereka untuk beberapa menit ke depan. Ironi itu selalu ada: di dalam buku-buku itu tersimpan dunia yang luas, namun kenyataannya, dunia Aris hanya sebatas teras berukuran tiga kali empat meter.

Pertemuan dengan Sang Birokrat

Minggu depannya, Aris memutuskan untuk pergi ke kantor Dinas Perpustakaan Daerah. Ia membawa proposal sederhana, ditulis dengan mesin ketik tua yang pitanya sudah mulai kering. Ia berharap mendapatkan sedikit bantuan—mungkin tambahan koleksi buku baru atau sekadar pengakuan resmi agar kegiatannya dianggap ada oleh pemerintah setempat.

Kantor itu sepi, meski jam kerja baru saja dimulai. Di sebuah meja besar, seorang pria tambun dengan seragam cokelat yang ketat sedang asyik bermain catur di komputer. Namanya Pak Mulyono, kepala bagian yang sudah belasan tahun mengabdi di sana tanpa pernah terlihat membaca satu pun buku di perpustakaan yang ia kelola.

"Jadi, Saudara Aris ini mau apa? Bantuan modal?" tanya Pak Mulyono tanpa mengalihkan pandangan dari layar monitor.

"Bukan modal uang, Pak. Saya hanya ingin akses ke buku-buku baru. Saya ingin masyarakat di pinggiran kota bisa mendapatkan akses bacaan yang berkualitas. Selama ini saya pakai uang pribadi, dan koleksi saya terbatas," jelas Aris dengan suara yang berusaha tetap tenang.

Pak Mulyono tertawa kecil, suara tawa yang kering. "Literasi ya? Istilah keren. Tapi begini, Ris. Kami ini punya anggaran terbatas. Prioritas kami adalah digitalisasi, meski internet di kantor ini saja sering mati. Lagipula, siapa yang mau baca buku fisik zaman sekarang? Anak-anak main game semua."

Aris menatap tumpukan berkas di meja Pak Mulyono. "Justru karena itu, Pak. Kita harus memberikan alternatif. Kalau tidak ada yang memulai di daerah, kita akan tertinggal."

"Begini saja," Pak Mulyono akhirnya menatap Aris, matanya sipit karena lemak di pipi. "Saya kasih kamu surat keterangan sebagai relawan. Tapi jangan minta anggaran. Kami sendiri pusing urus laporan akhir tahun. Oh ya, pastikan bukumu tidak ada yang berbau politik kiri. Kita tidak mau ada masalah, kan?"

Aris pulang dengan tangan hampa, kecuali selembar kertas berstempel basah yang nilainya tidak lebih dari selembar tisu bekas. Di perjalanan pulang, ia melihat anak-anak muda berkumpul di warung kopi, mata mereka terpaku pada layar ponsel, jempol mereka bergerak cepat. Tak satu pun dari mereka yang melihat ke arah langit sore yang berwarna jingga pucat, apalagi ke arah toko buku tua yang sudah tutup di ujung jalan.

Harapan yang Hampir Padam

Bulan-bulan berlalu. Semangat Aris mulai luntur seperti warna cat di rak bukunya. Suatu sore, hujan turun dengan lebat, khas daerah tropis yang bisa mengubah jalanan menjadi sungai kecil dalam sekejap. Aris sedang menutup rak bukunya dengan plastik agar tidak basah ketika seorang remaja laki-laki dengan baju seragam yang basah kuyup berteduh di terasnya.

Anak itu bernama Budi. Ia sering lewat, tapi tak pernah mampir. Kali ini, karena terpaksa oleh hujan, ia berdiri di depan rak buku Aris sambil menggigil.

"Boleh saya pinjam bukunya, Pak? Cuma buat baca sambil nunggu hujan," tanya Budi ragu.

Jantung Aris berdegup sedikit lebih cepat. "Tentu, silakan. Pilih saja yang kamu suka."

Budi mengambil sebuah buku tipis tentang biografi tokoh penemu. Ia duduk di lantai teras, membolak-balik halaman dengan tangan yang masih gemetar karena dingin. Aris memperhatikannya dari balik jendela. Ada sesuatu yang mengharukan melihat seorang anak manusia tenggelam dalam kata-kata di tengah riuhnya suara hujan.

Sejam berlalu, hujan mereda. Budi berdiri, mengembalikan buku itu ke rak. "Bagus, Pak. Ternyata orang miskin juga bisa jadi hebat ya kalau belajar."

Aris tersenyum tulus untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama. "Iya, Budi. Buku itu jendela. Kamu boleh bawa pulang kalau mau. Gratis."

Budi menggeleng. "Nanti dimarahi bapak saya, Pak. Katanya jangan bawa barang aneh-aneh ke rumah, nanti disangka maling. Besok saya ke sini lagi saja."

Namun, besoknya Budi tidak datang. Lusa pun tidak. Seminggu kemudian, Aris mendengar kabar bahwa Budi harus berhenti sekolah dan ikut ayahnya merantau ke kota besar untuk menjadi kuli bangunan. Harapan kecil yang sempat menyala di hati Aris padam seketika, menyisakan asap yang menyesakkan dada.

Ia kembali ke kesunyiannya. Ia mulai bertanya-tanya, apakah usahanya selama ini hanya sebuah keegoisan? Apakah ia hanya ingin merasa dirinya lebih baik dari orang lain dengan cara menjadi pegiat literasi? Ataukah ia memang benar-benar peduli?

Ironi di Akhir Hari

Malam itu, Aris duduk di teras. Lampu bohlam di atasnya berkedip-kedip, dikerubuti laron. Ia memegang sebuah buku sastra klasik yang sangat ia cintai. Ia mencoba membacanya, namun kata-katanya terasa kosong. Ia merasa lingkungan sekitarnya adalah sebuah dinding besar yang tak bisa ditembus oleh metafora atau diksi yang indah.

Tiba-tiba, Sarah keluar. Ia membawa sepiring singkong rebus. "Ada pengumuman di grup WhatsApp warga. Katanya besok ada kunjungan gubernur ke desa sebelah untuk meresmikan 'Desa Digital'. Semua warga diminta hadir."

Aris tertawa pahit. "Desa Digital? Sinyal saja timbul tenggelam. Buku-buku di sini saja tidak ada yang lirik."

"Mungkin kamu harus ke sana, Ris. Siapa tahu bisa bicara langsung dengan orang provinsi. Katanya mereka cari inovasi daerah yang berkualitas," saran Sarah, meski suaranya terdengar tidak yakin.

Aris menggeleng. Ia merasa lelah dengan segala retorika. Ia melihat ke arah tumpukan bukunya. Di bawah cahaya lampu yang redup, ia menyadari bahwa perjuangannya bukan untuk dilihat orang lain, bukan untuk mendapatkan bantuan gubernur, dan bukan pula untuk mengubah dunia dalam semalam.

Ia berdiri, mengambil kemoceng, dan mulai membersihkan debu di atas sampul buku satu per satu. Ia melakukannya dengan penuh ketelitian, seolah sedang memandikan bayi. Debu-debu itu terbang, hinggap di wajahnya, di pakaiannya, masuk ke paru-parunya. Ia batuk kecil, namun tidak berhenti.

Mungkin ia akan terus di sini, di teras yang berdebu ini, bersama buku-buku yang tak terbaca, menunggu seseorang yang mungkin tidak akan pernah datang. Ia teringat akan nasib tokoh-tokoh Chekhov yang selalu terjebak dalam kesia-siaan namun tetap menjalani hidup karena tidak ada pilihan lain. Hidup adalah tentang menunggu sesuatu yang tak pasti, sambil tetap menjaga apa yang dianggap berharga.

Di kejauhan, suara anjing menggonggong memecah kesunyian malam. Aris menutup pintu terasnya, memadamkan lampu, dan membiarkan buku-bukunya beristirahat dalam gelap. Besok matahari akan kembali terik, truk sawit akan kembali lewat, dan ia akan kembali menyeka debu dari rak kayunya. Begitulah cara ia bertahan hidup—menanam kata-kata di tanah yang tandus, berharap suatu saat, entah kapan, sebuah tunas akan muncul meski tak ada yang menyaksikannya.

Ia merebahkan tubuh di samping istrinya yang sudah terlelap. Di luar, angin malam berhembus, membawa aroma tanah kering dan keputusasaan yang halus. Aris memejamkan mata, membayangkan dunia di mana setiap anak memegang buku, namun gambaran itu perlahan kabur, digantikan oleh suara mesin truk yang seolah tak pernah berhenti menderu di dalam mimpinya.

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال