Ketika Pasar Saham Jakarta Terjungkal: Catatan Dari Hari Ketidakpastian

Ketika Pasar Saham Jakarta Terjungkal: Catatan Dari Hari Ketidakpastian
Ketika Pasar Saham Jakarta Terjungkal: Catatan Dari Hari Ketidakpastian

Ketika Pasar Saham Jakarta Terjungkal: Catatan Dari Hari Ketidakpastian

Pagi yang Optimis, Sore yang Penuh Kecemasan

Pukul sembilan pagi di lobi Bursa Efek Indonesia (BEI), layar-layar digital menari pelan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menguat 31,97 poin ke 8.428,05, angka yang memberi harapan pada investor di seluruh penjuru Jakarta bahwa api optimisme belum padam. Namun, seperti yang dilaporkan oleh ANTARA News dalam liputannya, lonjakan awal ini ibarat fatamorgana di tengah gurun, sirna seiring rontoknya kekuatan beli di sesi perdagangan siang hingga sore hari pada Selasa, 24 Februari 2026.

Aksi Jual Membanjir di Tengah Ketidakpastian Global

Pada penutupan sesi kedua, IHSG ambruk tajam sebesar 115,25 poin atau 1,37 persen ke posisi 8.280,83 — angka yang membuat denyut jantung pelaku pasar berdebar. Layar-layar bergerigi itu kini menunjukkan dominasi merah; sebanyak 567 saham melemah sementara hanya 153 yang mampu bertahan di zona hijau, dan 99 stagnan. Jumlah transaksi mencapai Rp29,5 triliun dengan volume lebih dari 60 miliar saham berpindah tangan sepanjang hari. Laporan detikFinance dan Kontan menegaskan catatan perdagangan ini sebagai salah satu koreksi terbesar dalam beberapa pekan terakhir. 

Investor Asing: Beli Bersih di Saat Terburuk

Ada ironi yang tajam di balik angka merah tersebut. Meski pasar terguncang, investor asing justru mencatat aksi beli bersih (net buy) sebesar Rp1,38 triliun di seluruh pasar. Dalam data Kontan, net buy ini tersebar Rp621,89 miliar di pasar reguler dan Rp754,96 miliar di pasar negosiasi serta tunai, menunjukkan bahwa aktor global masih melihat peluang nilai jangka panjang di tengah kepanikan. Namun, kenyataan pahitnya adalah banyak emiten besar yang tetap menjadi korban aksi jual asing — dari PT Impack Pratama Industri Tbk hingga PT Bumi Resources Tbk — menggambarkan paradoks antara keyakinan modal besar dan tekanan penjualan yang luar biasa.

Tawaran Global yang Makin Suram

Tekanan tak hanya datang dari dalam negeri. Ketidakpastian kebijakan tarif Amerika Serikat semakin mengguncang sentimen pasar global. Seperti diulas Media Indonesia dan ANTARA News, pelaku pasar kini merespons kekhawatiran tentang prospek suku bunga dan tarif yang bisa mengubah arus modal internasional, membuat IHSG dan rupiah sama-sama melemah pada sesi perdagangan ini.

Sektor Energi dan Tekanan di Seluruh Garis

Dalam statistik pergerakan sektoral, hampir seluruh sektor berakhir di zona merah pada Selasa sore. IHSG pun mencatat tekanan di sektor energi lebih dari 3 persen, sementara sektor teknologi dan barang konsumen non-primer ikut melemah tajam. Satu-satunya kilasan cahaya adalah sektor keuangan yang sempat naik tipis, namun tak cukup untuk membalikkan keseluruhan arah pasar. Berita iNews dan IDN Financials menggambarkan suasana ini sebagai koreksi yang menyeluruh dan bukan sekadar fenomena di beberapa saham pilihan.

Antara Volatilitas Domestik dan Geopolitik

Pelemahan tajam IHSG tak lepas dari kombinasi faktor domestik dan global. Di dalam negeri, sinyal teknikal sempat memberi sinyal optimism parsial, namun tergerus sentimen global yang membayangi. Para analis pasar kini mencermati dinamika global yang memperpanjang bayang-bayang ketidakpastian — dari kebijakan tarif AS hingga perubahan arah modal di pasar berkembang. Fenomena ini menunjukkan betapa rentannya pasar Indonesia terhadap gejolak internasional, sekaligus menggambarkan ketidaksiapan struktural yang masih menjadi PR besar bagi otoritas pasar modal.

Penutup: Menggugat Arah Pasar

Ambruknya IHSG pada perdagangan Selasa bukan sekadar angka statistik. Ia adalah cermin dari ketidakseimbangan antara ekspektasi dan realitas dalam pasar modal Indonesia: optimisme domestik yang rapuh dihadapkan pada gelombang global yang tak terduga. Ketika layar indikator berubah merah pekat, pelajaran yang tersisa adalah perlunya penguatan fundamental ekonomi dan ketahanan terhadap sentimen eksternal. Inilah ujian sesungguhnya bagi pasar modal kita — apakah ia bisa bertahan di tengah badai atau terus terombang-ambing oleh gejolak global? Untuk ulasan lebih dalam dan analisis pasar terkini, baca lebih lanjut di https://www.kangruli.web.id/.

Previous Post Next Post

نموذج الاتصال