Dari Lantai Bursa: IHSG Bangkit ke 8.330, Saham Batu Bara dan Properti Jadi Pusat Perhatian

Dari Lantai Bursa: IHSG Bangkit ke 8.330, Saham Batu Bara dan Properti Jadi Pusat Perhatian
Dari Lantai Bursa: IHSG Bangkit ke 8.330, Saham Batu Bara dan Properti Jadi Pusat Perhatian

Dari Lantai Bursa: IHSG Bangkit ke 8.330, Saham Batu Bara dan Properti Jadi Pusat Perhatian

Hijau Setelah Badai

Rabu siang, 25 Februari 2026. Jarum jam mendekati pukul 12.30 WIB ketika layar raksasa di ruang utama Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali memancarkan warna hijau. Sehari sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tersungkur dalam koreksi tajam. Namun pada sesi I perdagangan kali ini, indeks perlahan bangkit.

Berdasarkan data Stockbit yang juga dikutip sejumlah media pasar seperti Kontan dan CNBC Indonesia, IHSG ditutup naik 49,3 poin atau 0,59 persen ke level 8.330,13. Angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah sinyal bahwa pasar mencoba berdiri setelah terguncang sentimen global dan aksi ambil untung masif.

Transaksi Padat, Perang Sengit di Balik Angka

Nilai transaksi hingga sesi I tercatat Rp16,69 triliun, dengan volume 31,40 miliar saham berpindah tangan dalam 1,74 juta kali transaksi. Di balik angka-angka tersebut, terjadi pertarungan sengit antara 319 saham yang menguat dan 329 saham yang terkoreksi, sementara 169 saham lainnya stagnan.

Pergerakan yang nyaris seimbang antara penguatan dan pelemahan memperlihatkan satu hal: pasar belum sepenuhnya tenang. Optimisme ada, tetapi kehati-hatian masih terasa di setiap keputusan beli dan jual.

BUMI, BIPI, BUVA: Trio Paling Aktif

Di antara ratusan emiten, tiga nama mendominasi percakapan di ruang-ruang dealing room: PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI), dan PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA). Ketiganya tercatat sebagai saham paling aktif dari sisi nilai maupun volume transaksi.

BUMI memimpin dari sisi nilai dengan transaksi mencapai Rp1,23 triliun dan volume 45,56 juta lembar saham. BIPI menyusul dengan nilai Rp1,12 triliun dan volume 38,20 juta lembar. Sementara BUVA mencatatkan transaksi senilai Rp641,71 miliar. Aktivitas masif ini menandakan minat spekulatif dan rotasi dana yang cepat, terutama pada saham-saham berbasis komoditas dan properti.

Di sektor energi, perhatian investor masih tertuju pada dinamika harga batu bara global dan prospek permintaan dari China serta India. Sementara di sektor properti dan pariwisata, pelaku pasar membaca peluang dari pemulihan konsumsi domestik dan pergerakan wisatawan.

Pemenang dan Pecundang Sementara

Sejumlah saham melonjak tajam dalam sesi pagi. SCNP melesat 27,71 persen ke level 212. TOOL naik 25,76 persen ke 83. KONI menguat 25 persen ke 2.250. CARS dan KAQI juga mencatatkan kenaikan dua digit. Kenaikan ekstrem ini mengindikasikan adanya aksi spekulatif yang agresif, tipikal pada fase pasar yang masih mencari arah.

Di sisi lain, tekanan tak terhindarkan menimpa INDS yang turun hampir 15 persen ke 1.505. DAAZ, SSTM, IDEA, dan MGLV turut terperosok dalam daftar top losers. Fluktuasi tajam ini memperlihatkan betapa volatilitas belum benar-benar reda pasca koreksi besar sehari sebelumnya.

Rupiah Menguat Tipis, Bursa Asia Kompak Hijau

Sentimen positif tak hanya datang dari dalam negeri. Data Bloomberg menunjukkan rupiah menguat tipis 29 poin atau 0,17 persen ke level Rp16.800 per dolar AS. Penguatan ini memberi bantalan psikologis bagi pasar saham domestik.

Mayoritas bursa Asia juga bergerak di zona hijau. Indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,74 persen, Hang Seng Hong Kong menguat 0,58 persen, dan SSE Composite China melonjak 1,20 persen. Hanya Straits Times Singapura yang terkoreksi tipis 0,12 persen. Sinkronisasi penguatan regional ini menjadi katalis tambahan bagi IHSG untuk bertahan di jalur positif.

Pasar Masih Rapuh, Arah Belum Final

Kenaikan IHSG pada sesi I ini memang memberi napas segar setelah koreksi tajam sehari sebelumnya. Namun, jika menelisik komposisi saham yang naik dan turun yang nyaris berimbang, jelas bahwa fondasi penguatan masih rapuh. Investor tampak selektif, memanfaatkan momentum teknikal tanpa sepenuhnya melepaskan sikap defensif.

Di tengah ketidakpastian global, fluktuasi harga komoditas, serta dinamika arus modal asing, pasar saham Indonesia sedang berada di persimpangan arah. Apakah penguatan ini akan berlanjut hingga penutupan, atau sekadar reli sesaat sebelum tekanan berikutnya datang, masih menjadi tanda tanya besar.

Satu hal yang pasti, lantai bursa hari ini kembali menjadi panggung drama antara optimisme dan kehati-hatian. Dan seperti biasa, hanya waktu serta disiplin manajemen risiko yang akan menentukan siapa bertahan dan siapa tersingkir. Untuk analisis mendalam dan perspektif tajam lainnya, kunjungi https://www.kangruli.web.id/.

Previous Post Next Post

نموذج الاتصال