Luka yang Dirawat Algoritma dan Janji yang Menguap di Udara
Kita sering kali dipatahkan oleh pola yang sama, dijatuhkan oleh janji manis yang diulang-ulang dengan cara yang sedikit berbeda. Jika dahulu seseorang menyakiti kita dengan terang-terangan—meninggalkan memar yang nyata pada ingatan—kini, orang-orang yang gila akan validasi memilih cara yang jauh lebih rapi untuk meremukkan perasaan kita. Mereka berdandan sempurna, menebar senyum yang telah dilatih berjam-jam di depan cermin, dan menipu kita dari balik layar gawai dengan rayuan yang mereka sebut sebagai visi masa depan.
| Luka yang Dirawat Algoritma dan Janji yang Menguap di Udara |
Fake empathy is the highest form of betrayal. Empati palsu adalah bentuk pengkhianatan yang paling puncak. Sebab ia tidak sekadar membohongi pikiran, tetapi merampok ruang paling suci di dalam dada kita: rasa percaya.
Menjelang hari-hari di mana mereka sangat mengemis suaramu, orang-orang yang seumur hidupnya mengurung diri di balik kaca mobil mewah berpendingin udara ini mendadak terserang wabah kerakyatan. Seperti sebuah lakon drama yang naskahnya ditulis dengan tergesa-gesa, mereka tiba-tiba turun ke jalanan. Mereka mendadak rela sepatu kulit mahalnya kotor oleh genangan lumpur pasar tradisional, pura-pura memahami kerasnya tangis bayimu di tengah malam, dan memeluk tubuh lelahmu seolah engkau adalah satu-satunya rumah tempat mereka ingin menetap selamanya.
Tapi, cobalah tatap matanya baik-baik saat pelukan itu terjadi. Di balik kehangatan yang dipaksakan itu, ada puluhan lensa kamera yang menyala, menunggu sudut pencahayaan yang paling pas untuk menangkap "kebaikan" mereka. Mereka tidak sedang merengkuh kesedihanmu. Mereka hanya meminjam lukamu, meminjam kemiskinanmu, untuk dijadikan properti pameran. Setelah lampu kilat kamera padam, senyum haru itu akan raib seketika. Mereka akan buru-buru mencari cairan pembersih tangan, seolah sisa-sisa keringat dari tubuhmu adalah sesuatu yang menjijikkan bagi hidup mereka yang telanjur wangi.
Kitab suci telah jauh-jauh hari mengingatkan kita tentang manusia-manusia pemuja panggung ini. Dalam Injil Matius 6:1-2 tertulis peringatan yang begitu tajam: "Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka... Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang."
Kepedulian yang harus disiarkan dengan pengeras suara dan kilatan kamera bukanlah cinta, melainkan sebuah transaksi bisnis. Mereka menjadikan duka rakyat sebagai komoditas.
Dalam kearifan leluhur kita, perilaku semacam ini sudah lama ditelanjangi. Orang tua-tua di perdesaan sering mengingatkan, "Hade ku omong, tapi goreng ku lampah." Ucapannya begitu indah tersusun, namun tindakannya menghancurkan. Mereka mempertontonkan kesopanan semu, padahal di dalam hatinya tersimpan watak rarampit jeung papaling—hasrat yang tak tertahankan untuk merampas hak orang lain demi memuaskan dahaga kekuasaan sendiri.
Lalu, kebohongan yang telah terekam secara apik itu tidak berhenti di jalanan berdebu. Ia dibawa ke tempat yang lebih bising dan jauh lebih manipulatif: media sosial. Di sanalah pencitraan menjadi sebentuk pengkhianatan yang paling rapi. Luka-lukamu yang mereka eksploitasi kini dipoles, diberi filter warna yang dramatis, dan dibubuhi musik latar yang menyayat hati. Lewat algoritma di beranda ponselmu, seseorang yang tak pernah sudi menoleh saat kau menangis sendirian kelaparan, tiba-tiba disulap menjadi bapak pembangunan yang paling penyayang.
Actions speak louder than curated feeds. Tindakan nyata selalu berbicara lebih lantang daripada unggahan media sosial yang dirancang oleh puluhan konsultan politik. Namun, dalam dunia maya yang bising ini, kebohongan yang disebarkan ribuan kali oleh pasukan pendengung (buzzer) perlahan akan terasa seperti ketulusan. Mereka memanipulasi perasaan kita setiap detik. Mereka merancang segalanya agar kita, dengan hati yang luluh dan mata yang rabun, menyerahkan kunci masa depan kita kepada orang yang kelak hanya akan pergi meninggalkan kita sendirian saat tujuannya tercapai.
Tuhan sangat membenci kemunafikan yang dibungkus dengan janji-janji manis. Al-Qur'an dalam Surah As-Saff ayat 2-3 menegur dengan amat keras: "Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan."
Janji yang terucap di depan kamera namun dikhianati saat kekuasaan telah digenggam adalah sebuah dosa besar yang tidak hanya menghancurkan manusia, tetapi juga mengundang murka pencipta. Mereka berteriak tentang kesejahteraan, namun yang sejahtera hanyalah kerabat dan penyokong dananya.
Sebagai manusia yang dianugerahi akal dan harga diri, kita harus belajar untuk tidak mudah jatuh pada pesona yang murahan. "Cicing pageuh dina galur, ulah kabengbat ku nu ngaliwat." Tetaplah teguh pada prinsip dan kewarasanmu, jangan mudah terbuai oleh godaan-godaan sesaat dari mereka yang hanya numpang lewat menjelang pemilihan.
Seseorang yang berharga tidak dinilai dari seberapa banyak ia membagikan uang receh di jalanan, tetapi dari seberapa jernih ia menjaga integritasnya saat tidak ada satu pun kamera yang merekam. Keadilan sejati tidak pernah lahir dari konten viral yang sengaja direkayasa, melainkan dari kebijakan sunyi yang benar-benar mengangkat derajat mereka yang selama ini disingkirkan.
Maka, tutuplah telingamu dari rayuan mereka yang hanya hidup dari blusukan palsu. Jangan serahkan hatimu—dan suaramu—kepada wajah-wajah yang memoles kebohongan di balik gincu pencitraan media sosial. Tegaslah pada kewarasanmu sendiri. Sebab, jika engkau menyerahkan nasib pada mereka yang hanya mencintai panggung sandiwara, bersiaplah untuk menanggung patah hati yang paling panjang, meratapi kemerdekaan yang telah engkau jual dengan harga yang sangat murah.
Posting Komentar