Hama Peradaban di Bumi Manusia: Anatomi "Rarampit jeung Papaling", Sahwat Kuasa, dan Pengkhianatan Kaum Terpelajar
Dengarkanlah, betapa sejarah bangsa-bangsa di bumi manusia ini lebih sering ditulis oleh darah, keringat, dan air mata kaum jelata, ketimbang oleh tinta keadilan. Kita mengutuk kolonialisme, mengusir tuan-tuan kulit putih dari tanah air ini berpuluh tahun silam, namun kita sering kali rabun melihat kenyataan bahwa watak penjajah itu telah berpindah dan bermukim di kepala lintah darat berwajah pribumi.
Orang-orang tua kita di perdesaan Sunda, yang hidupnya akrab dengan tanah, angin, dan kesahajaan, telah lama merumuskan anatomi penyakit jiwa warisan kolonial ini dalam satu frasa yang teramat tajam: rarampit jeung papaling.
| Hama Peradaban di Bumi Manusia: Anatomi "Rarampit jeung Papaling", Sahwat Kuasa, dan Pengkhianatan Kaum Terpelajar |
Secara harfiah, ia berarti mengambil serampangan (apa yang bukan haknya) dan mencuri. Namun dalam panggung sejarah kekuasaan, dua kata itu bukan sekadar cacat moral kelas teri. Ia adalah anatomi dari keserakahan struktural. Ia adalah hama peradaban. Dan jika engkau ingin melihat bagaimana wujud asli rarampit jeung papaling ini bermutasi menjadi monster yang paling mengerikan, perhatikanlah raut wajah para pemburu kuasa ketika musim pemilihan tiba, dan tataplah lekat-lekat tangan mereka setelah kursi itu berhasil diduduki.
Cermin Retak Kaum Terpelajar
Dalam maha karyanya, Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer menitipkan sebuah pesan yang melampaui zamannya:
"Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan."
Namun, apa yang terjadi pada para calon pemimpin kita hari ini? Pendidikan tinggi, gelar sarjana, dan titel akademis yang berderet di belakang nama mereka rupanya gagal memerdekakan mereka dari watak rarampit. Justru sebaliknya, kepandaian itu digunakan untuk merancang cara perampasan yang lebih canggih, lebih rapi, dan tak tersentuh hukum.
Mereka lupa, atau sengaja melupakan, bahwa keadilan tak pernah bisa tegak jika di dalam pikiran sudah bersarang bibit rarampit—hasrat gila untuk memiliki harta, status, dan kendali atas nasib orang banyak demi perut sendiri. Penyakit ini merayap pelan, meracuni nurani, lalu menenggelamkan mereka ke dalam kubangan sahwat kekuasaan.
Berahi Kuasa dan Sandiwara Pra-Pemilihan: Merampit Kehormatan
Sahwat kekuasaan tidak pernah datang dengan wajah serigala yang menyeringai. Ia datang dengan senyum paling santun, dengan blangkon atau peci yang terpasang rapi, dan tangan yang seolah siap memikul seluruh penderitaan dunia.
Menjelang hari penentuan, sang calon pemimpin akan turun gelanggang ke lorong-lorong becek. Ia menyalami tangan-tangan kasar kaum kuli, nelayan, dan tani. Ia pura-pura menelan makanan rakyat yang di kerongkongannya mungkin terasa seperti pasir. Pada fase inilah, tabiat rarampit (merampas secara diam-diam) bekerja dalam dimensi psikologis yang paling brutal. Ia belum memegang kunci brankas negara, maka yang ia curi adalah hal-hal yang tak kasat mata namun paling bernilai: harapan, masa depan, dan harga diri.
Ia merampit suara rakyat dengan menukarnya menggunakan sembako murahan atau lembaran rupiah yang tak seberapa. Eduard Douwes Dekker (Multatuli) dalam Max Havelaar pernah menyindir tajam bagaimana penguasa lokal (bumiputra) justru menjadi penindas paling kejam bagi bangsanya sendiri. Para calon pemimpin ini merawat kemiskinan secara sistematis, sebab mereka tahu, hanya pada rakyat yang lapar dan miskinlah, sebuah suara bisa dibeli dengan harga yang paling hina.
Mereka mengemis di depan mimbar-mimbar desa, memunguti simpati dengan janji-janji kosong. Inilah berahi kuasa pada tingkatnya yang paling memabukkan—ketika seorang manusia merasa dirinya adalah dewa penyelamat yang berhak mengakuisisi martabat ribuan manusia lainnya.
Setelah Takhta Diduduki: Legitimasi "Papaling"
Lalu, apa yang terjadi setelah bilik suara dibongkar, suara selesai dihitung, dan sang calon sah menaiki singgasana?
Kain penutup panggung seketika ditarik. Tirani selalu terlahir dari rahim janji-janji yang dikhianati. Berahi yang tadinya tertahan oleh pencitraan kampanye, kini meledak menjadi kelaparan yang tak berujung. Sifat rarampit yang awalnya berupa perampasan-perampasan kecil atas nurani rakyat, kini bermutasi menjadi papaling—pencurian raksasa, perampasan terstruktur yang dilegitimasi oleh undang-undang, stempel pemerintah, dan tanda tangan kekuasaan.
Lord Acton, seorang sejarawan dan filsuf moral abad ke-19, pernah memberikan peringatan yang terus menggemuruh hingga hari ini:
"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." (Kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan yang mutlak akan korup secara mutlak).
Manusia yang dulu membungkuk-bungkuk meminta doa restu rakyat, kini menjelma menjadi mandor besar yang mengunci rapat pintu istananya. Tangan yang dulu menengadah ke langit, kini sibuk merogoh kantong-kantong anggaran. Ia harus membayar lunas utang-utang logistik kepada para cukong, bandar, dan oligarki yang membiayai panggung sandiwaranya.
Mereka tidak lagi mencuri seperti maling jemuran di kampung yang membobol jendela di malam buta. Tidak. Praktik papaling mereka jauh lebih beradab bungkusnya, namun jauh lebih biadab isinya. Mereka mencuri hutan-hutan dan sungai dengan menebar izin tambang. Mereka merampas tanah ulayat atas nama investasi asing. Mereka memotong anggaran pendidikan dan hak kesehatan ibu-anak, yang ujung-ujungnya dialirkan ke dalam rekening perusahaan-perusahaan cangkang milik kroninya.
Hukum, yang seharusnya menjadi panglima penegak keadilan, diubah sedemikian rupa menjadi selembar kuitansi resmi untuk melegalkan perampokan tersebut.
Kutukan Sejarah dan Suara yang Tak Bisa Dibungkam
Sahwat berkuasa yang lahir dari rahim rarampit jeung papaling ini pada akhirnya akan menelan tuannya sendiri. Sang penguasa bukan lagi manusia merdeka; ia telah menjadi budak bagi nafsu binatangnya. Hatinya menjelma menjadi rongga kosong yang terus-menerus menggemakan ketakutan. Ia menumpuk harta, menyusun aparat, dan membungkam kritik, bukan karena ia kuat, melainkan karena ia dihantui oleh ketakutannya sendiri—takut kehilangan jabatan, takut hartanya disita, takut dijatuhkan, takut kembali menjadi manusia biasa.
Sungguh sebuah ironi yang menyayat hati. Di saat komunitas-komunitas perdesaan dan rakyat kecil berjuang keras mendidik anak-anaknya agar beradab, merawat literasi, dan menanamkan pantangan rarampit jeung papaling, manusia-manusia berdasi di ibu kota justru menjadikan pencurian itu sebagai mahkota kebesaran mereka.
Namun, mengutip kembali semangat perlawanan dalam tulisan Pramoedya: "Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini?"
Rakyat mungkin bisa dibodohi untuk sesaat. Kehormatan mereka mungkin bisa dirampit dalam semalam. Namun, sejarah tak pernah buta. Bumi manusia ini selalu mencatat dengan matanya yang dingin, awas, dan tak kenal ampun. Sekuat apa pun mereka membangun benteng kekuasaan dari hasil merampok hak rakyat, mereka tak akan pernah tercatat sebagai pahlawan. Waktu akan melucuti pangkat dan tanda jasa mereka, meninggalkan nama mereka membusuk dalam ingatan zaman—dikenang tak lebih dari sekadar pencuri-pencuri hina yang kebetulan, pada suatu masa, pernah mengenakan jas kebesaran.
Posting Komentar