Mencari Ketulusan dalam Sandiwara Dunia: Kisah Perlawanan terhadap Kepalsuan Hidup

Mencari Ketulusan dalam Sandiwara Dunia: Kisah Perlawanan terhadap Kepalsuan Hidup

Matahari sore menggantung rendah di atas cakrawala kota kecil itu, memancarkan cahaya jingga yang letih, seolah-olah ia sendiri bosan dengan rutinitas menyinari atap-atap seng dan pohon-pohon mangga yang berdebu. Pak Aris duduk di beranda rumahnya, sebuah bangunan tua dengan cat mengelupas yang tampak seperti kulit ular yang sedang berganti. Di tangannya, sebuah cangkir teh yang sudah mendingin tidak lagi mengeluarkan uap. Ia memandangi jalanan sepi di depannya, tempat di mana debu-debu beterbangan ditiup angin kering bulan Agustus.

Aris adalah seorang pria yang mencintai keheningan. Baginya, kata-kata adalah komoditas yang mahal, sesuatu yang harus digunakan dengan hemat seperti garam dalam masakan. Namun, dunia di sekitarnya tampaknya sedang mengalami inflasi kata-kata yang luar biasa. Semua orang seolah-olah sedang berteriak, memamerkan luka, kebahagiaan, dan pencapaian mereka dengan cara yang menurut Aris sangat berlebihan—atau dalam istilah yang sering didengarnya dari mulut anak-anak muda sekarang: lebay.

Mencari Ketulusan dalam Sandiwara Dunia: Kisah Perlawanan terhadap Kepalsuan Hidup
Mencari Ketulusan dalam Sandiwara Dunia: Kisah Perlawanan terhadap Kepalsuan Hidup

Sunyi di Tengah Riuh

Pintu rumah terbuka, dan istrinya, Maya, melangkah keluar dengan ponsel di tangan. Cahaya layar memantul di wajahnya yang dipoles riasan tipis namun teliti. Maya tidak melihat ke arah Aris; ia sedang sibuk mengatur sudut pandang kamera ponselnya untuk mengambil foto secangkir teh dan sepiring biskuit yang baru saja ia letakkan di meja kecil di depan Aris.

"Mas, geser sedikit tangannya. Nah, begitu. Biar estetik," kata Maya tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Aku mau menulis tentang 'ketenangan sore yang berkualitas' di media sosial. Orang-orang perlu tahu bahwa kita bahagia."

Aris menghela napas pendek. Ia menggeser tangannya dengan gerakan kaku, seolah-olah ia adalah properti panggung yang enggan digerakkan. "Kenapa mereka harus tahu, Maya? Bukankah cukup jika kita sendiri yang merasakannya?"

Maya tertawa kecil, suara tawa yang terdengar seperti bunyi lonceng yang retak. "Oh, Aris, kamu ini kuno sekali. Di zaman sekarang, kalau tidak dibagikan, artinya tidak terjadi. Orang akan menganggap kita sedang bertengkar atau, lebih buruk lagi, hidup kita membosankan."

Aris kembali menatap jalanan. Ia teringat masa kecilnya di desa, di mana kebahagiaan adalah sesederhana memakan ubi bakar bersama ayahnya di bawah pohon beringin tanpa ada kebutuhan untuk menceritakannya pada siapa pun. Tidak ada drama, tidak ada hiperbola. Hidup mengalir seperti air sungai yang tenang, yang meskipun tidak dalam, tetap memberikan kesegaran yang nyata. Ia merindukan keaslian itu—sebuah hidup yang berkualitas karena isinya, bukan karena kemasannya.

Beberapa hari kemudian, sebuah undangan pernikahan tiba. Itu adalah pernikahan keponakan Maya, seorang gadis muda yang bekerja sebagai pemberi pengaruh di internet. Aris sebenarnya ingin menolak hadir, namun ia tahu itu akan memicu badai drama lainnya. Maya sudah mulai merencanakan pakaian apa yang akan mereka kenakan, warna apa yang harus senada, dan bagaimana mereka harus berpose di karpet merah nanti.

"Kita harus terlihat sempurna," gumam Maya sambil mematut diri di depan cermin. "Pernikahan ini akan dihadiri banyak orang penting. Aku ingin kita memberikan kesan sebagai pasangan yang harmonis dan berkualitas."

Aris hanya mengangguk pelan. Di dalam benaknya, ia membayangkan sebuah hutan yang sepi, di mana ia bisa berdiri di bawah hujan tanpa perlu khawatir apakah bajunya akan basah atau bagaimana penampilannya saat difoto. Ia merasa seperti seorang aktor yang dipaksa memainkan peran dalam naskah yang tidak pernah ia setujui.

Panggung Sandiwara di Gedung Pertemuan

Hari pernikahan itu tiba. Gedung pertemuan di pusat kota dihiasi dengan ribuan bunga plastik dan lampu-lampu kristal yang berkilauan dengan angkuh. Musik pop yang mendayu-dayu memenuhi ruangan, namun bagi telinga Aris, itu hanyalah kebisingan yang teratur. Semua tamu tampak mengenakan topeng terbaik mereka. Senyum yang dipaksakan, tawa yang terlalu keras, dan pelukan yang terasa hampa.

Ia melihat keponakannya, sang mempelai wanita, berdiri di pelaminan. Wajahnya tertutup lapisan bedak yang tebal, membuatnya tampak seperti boneka porselen yang bisa pecah kapan saja. Ia terus tersenyum ke arah kamera-kamera yang mengepungnya, namun Aris melihat sesuatu di matanya—sebuah kelelahan yang mendalam, sebuah teriakan minta tolong yang teredam oleh tuntutan untuk tampil sempurna.

"Lihat mereka, Aris. Sangat serasi, bukan?" bisik Maya sambil menarik lengan suaminya menuju meja makanan. "Ini benar-benar pesta yang berkualitas tinggi. Semuanya dipikirkan dengan matang."

Aris mengambil sepotong daging dari piringnya. Rasanya tawar, tertutup oleh saus yang terlalu manis. "Semuanya terasa seperti plastik bagi saya, Maya. Bunga-bunganya, musiknya, bahkan senyum mereka. Apakah tidak ada lagi ruang untuk sedikit kejujuran yang sederhana?"

Maya mendengus, tampak tersinggung. "Kamu terlalu sinis. Ini adalah perayaan. Orang-orang ingin melihat keindahan, bukan realitas yang pahit."

Aris terdiam. Ia memperhatikan seorang pria tua yang duduk di sudut ruangan. Pria itu tampak asing dengan segala kemewahan ini. Ia mengenakan jas yang tampak kekecilan, mungkin jas yang sama yang ia gunakan sepuluh tahun lalu. Pria itu tidak membawa ponsel, tidak sibuk mengambil gambar. Ia hanya duduk diam, mengamati kerumunan dengan mata yang teduh. Aris merasa ada ikatan batin dengan pria itu—sebuah kesunyian yang sama di tengah hiruk-pikuk yang berlebihan.

Tiba-tiba, sebuah kejadian kecil menarik perhatian semua orang. Sang mempelai pria tanpa sengaja menumpahkan segelas minuman ke gaun putih sang mempelai wanita. Ruangan itu seketika hening. Sang mempelai wanita tampak terkejut, wajahnya memerah. Untuk sesaat, topeng kesempurnaan itu retak. Namun, dalam hitungan detik, tim dokumentasi segera bergerak. Mereka meminta sang mempelai pria untuk berlutut dan berpura-pura membersihkan noda itu dengan sapu tangan, sementara sang mempelai wanita harus tertawa kecil seolah-olah itu adalah momen romantis yang lucu.

"Ayo, senyum! Ini akan jadi konten yang bagus!" teriak sang pengarah gaya.

Aris merasa mual. Kejujuran akan rasa kesal, malu, dan kecewa baru saja dibunuh secara paksa demi sebuah narasi yang berkualitas di mata penonton digital. Ia tidak tahan lagi. Tanpa pamit pada Maya yang sedang sibuk mengobrol dengan temannya tentang merek tas terbaru, Aris melangkah keluar gedung.

Hujan dan Kebenaran yang Sederhana

Di luar, langit telah berubah menjadi abu-abu gelap. Rintik hujan mulai turun, satu demi satu, menghujam aspal yang panas dan mengeluarkan bau tanah yang khas—petrichor. Aris berjalan menjauh dari gedung itu, membiarkan air hujan membasahi kemeja batiknya yang rapi. Ia merasa bebas. Hujan ini tidak berpura-pura. Ia turun karena memang harus turun, tanpa peduli apakah ada yang memotretnya atau tidak.

Ia sampai di sebuah taman kecil yang sepi. Di sana, ia melihat seorang anak kecil sedang mengejar seekor katak di bawah hujan. Anak itu tertawa lepas, wajahnya penuh lumpur, pakaiannya kotor. Tidak ada kamera yang mengawasinya. Tidak ada orang tua yang menyuruhnya berpose agar terlihat seperti anak yang berkualitas. Hanya ada kegembiraan murni yang tidak perlu dijelaskan dengan kata-kata indah.

Aris duduk di sebuah bangku kayu yang basah. Ia menyadari bahwa perlawanannya terhadap "lebay" bukanlah tentang membenci orang lain, melainkan tentang upayanya untuk tetap waras dalam dunia yang semakin kehilangan makna. Ia tidak ingin menjadi bagian dari sandiwara itu. Ia lebih memilih menjadi penonton yang sunyi, yang menghargai setiap detik kehidupan apa adanya, tanpa tambahan bumbu-bumbu yang menyesakkan.

Ia teringat sebuah kutipan dari seorang penulis lama yang pernah ia baca di perpustakaan kantornya: "Hidup yang jujur adalah hidup yang paling berani." Saat itu, ia tidak terlalu memahaminya, namun sekarang, di bawah guyuran hujan yang semakin deras, ia merasakannya hingga ke tulang. Menjadi diri sendiri yang sederhana, yang tidak berlebihan, adalah sebuah tindakan pemberontakan yang paling elegan.

Setengah jam kemudian, Maya menemukannya di taman itu. Maya datang dengan payung berwarna merah cerah, wajahnya menunjukkan perpaduan antara kemarahan dan kecemasan. "Aris! Apa yang kamu lakukan di sini? Kamu basah kuyup! Apa kata orang nanti kalau melihatmu seperti ini?"

Aris menatap istrinya. Ia melihat garis-garis halus di sekitar mata Maya yang biasanya ditutupi oleh kosmetik mahal. Di bawah cahaya lampu taman yang redup, Maya tampak lelah. Ternyata, sandiwara itu juga memakan jiwanya sendiri.

"Aku hanya ingin merasakan hujan, Maya," jawab Aris pelan. "Hujan yang sungguhan."

Maya terdiam. Ia menatap suaminya lama, seolah-olah ia sedang melihat orang asing. Namun kemudian, perlahan-lahan, bahunya merosot. Ia menutup payungnya dan membiarkan dirinya terpapar rintik hujan. "Melelahkan, ya?" bisiknya hampir tak terdengar.

"Ya," sahut Aris. "Sangat melelahkan."

Mereka berdiri berdampingan di taman itu, membiarkan air hujan menghapus sisa-sisa kemegahan palsu dari tubuh mereka. Tidak ada foto yang diambil. Tidak ada status yang diunggah. Hanya ada dua orang manusia biasa yang sedang mencoba menemukan kembali potongan-potongan diri mereka yang hilang di balik tumpukan kata-kata berlebihan.

Akhir yang Tak Berakhir

Malam semakin larut ketika mereka kembali ke rumah. Rumah itu tetap sama—tua, catnya mengelupas, dan berdebu. Namun bagi Aris, rumah itu sekarang terasa lebih hidup. Ia masuk ke dalam, mengganti pakaiannya dengan sarung tua yang nyaman, dan duduk kembali di beranda.

Maya keluar dari dapur membawa dua cangkir teh hangat. Kali ini, ia tidak membawa ponselnya. Ia meletakkan teh itu di atas meja tanpa banyak bicara. Mereka duduk dalam keheningan yang panjang, mendengarkan suara jangkrik dan tetesan air dari talang yang bocor.

Apakah esok hari dunia akan berubah? Aris tahu jawabannya: tidak. Maya mungkin akan kembali dengan ponselnya, orang-orang di kantornya akan tetap membicarakan hal-hal yang tidak penting dengan nada yang hiperbolis, dan kepalsuan akan tetap menjadi mata uang utama dalam pergaulan sosial. Namun, Aris merasa sedikit lebih damai. Ia telah menemukan cara untuk bertahan hidup—dengan tetap menjadi sebuah titik kecil yang jujur di tengah lautan kepalsuan.

Hidup yang berkualitas, pikirnya, bukanlah tentang seberapa banyak orang yang memuji atau memperhatikan kita. Hidup yang berkualitas adalah ketika kita bisa menutup mata di malam hari tanpa merasa malu kepada diri sendiri. Ketika kita bisa merasakan kesedihan tanpa harus membuatnya menjadi panggung, dan merasakan kebahagiaan tanpa harus menjadikannya pengumuman.

Aris menyesap tehnya yang hangat. Rasanya sedikit pahit, namun nyata. Di kejauhan, lampu-lampu kota berkedip-kedip, tampak cantik dari kejauhan, namun Aris tahu betapa panas dan bisingnya di bawah sana. Ia lebih suka di sini, di kegelapan berandanya, di mana kejujuran tidak perlu diteriakkan untuk bisa didengar.

Angin malam berhembus, membawa aroma melati dari halaman tetangga. Aris memejamkan mata, membiarkan kesunyian merengkuhnya erat-erat. Ia tidak lagi ingin melawan dunia; ia hanya ingin menjaga agar api kecil di dalam dirinya tetap menyala—api kejujuran yang tidak akan pernah padam oleh badai drama sehebat apa pun.

Maya menyandarkan kepalanya di bahu Aris. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Aris merasakan beban di hatinya sedikit terangkat. Mungkin, di balik semua kepalsuan itu, setiap orang sebenarnya sedang mencari hal yang sama: sebuah pelabuhan yang tenang di mana mereka bisa melepas topeng dan bernapas dengan lega.

Dan di beranda yang sunyi itu, Aris merasa ia telah menemukannya.



Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال