Luka yang Tak Berdarah: Perjuangan Sunyi Melawan Asam Lambung di Tengah Hiruk-Pikuk Kota
Di balik meja kayu yang permukaannya sudah mulai mengusam oleh tumpukan berkas, Surya merasakan ada sesuatu yang terbakar di balik tulang dadanya. Bukan api asmara, tentu saja. Di usianya yang menginjak empat puluh lima tahun, api semacam itu sudah lama padam, digantikan oleh bara yang jauh lebih menjengkelkan: cairan asam yang merayap perlahan dari lambung menuju kerongkongannya. Ia menarik napas panjang, namun yang ia hirup hanyalah aroma debu kantor dan bau kopi murah yang baru saja ia sesap sepuluh menit lalu. Kopi itu, ia tahu, adalah sebuah kesalahan. Namun di kantor ini, tanpa kopi, waktu seolah berhenti berputar seperti jam dinding di ruang arsip.
| Luka yang Tak Berdarah: Perjuangan Sunyi Melawan Asam Lambung di Tengah Hiruk-Pikuk Kota |
Surya menyandarkan punggungnya yang pegal. Ia menatap ke luar jendela, ke arah deretan gedung pencakar langit yang tampak seperti barisan gigi raksasa yang siap mengunyah orang-orang kecil sepertinya. Di samping laptopnya, sebuah botol kecil berisi cairan putih kental berdiri seperti monumen kegagalan hidupnya. Ia harus meminumnya setiap kali rasa terbakar itu datang, sebuah ritual yang lebih konsisten daripada doanya di malam hari.
"Masih perih, Sur?" suara itu datang dari meja sebelah. Itu Bambang, rekan kerjanya yang memiliki hobi membicarakan penyakit orang lain seolah-olah ia adalah seorang dokter bedah senior. Bambang sendiri tampak jauh dari sehat; perutnya buncit dan napasnya selalu terdengar seperti ban bocor.
"Hanya sedikit panas," jawab Surya singkat. Ia tidak ingin memperpanjang percakapan. Ia benci bagaimana penyakit ini membuatnya tampak lemah, tampak seperti seseorang yang tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri bahkan di depan sebuah piring makanan.
"Itu karena kamu terlalu banyak pikiran," lanjut Bambang, tidak peduli dengan ketidaktertarikan Surya. "Hidup itu harus dinikmati, Sur. Cari hiburan yang berkualitas, jangan cuma berkutat dengan angka-angka ini. Asam lambung itu penyakit orang stres. Kamu tahu Pak Hadi dari divisi keuangan? Dia sampai masuk rumah sakit karena dikira serangan jantung, ternyata cuma gas yang terjebak di dada. Bayangkan, mati karena gas!"
Surya hanya tersenyum tipis. Ironi itu tidak luput darinya. Di dunia yang serba cepat ini, bahkan rasa sakit pun harus bersaing dengan efisiensi kerja. Ia kembali menunduk, memandangi layar laptopnya. Huruf-huruf itu tampak menari-nari, mengabur di balik air mata tipis yang muncul karena rasa tidak nyaman yang menusuk-nusuk ulu hatinya.
Ritual di Meja Makan
Rumah Surya adalah tempat di mana kesunyian memiliki suaranya sendiri. Ningsih, istrinya, adalah wanita yang baik, namun ia memiliki cara unik untuk menunjukkan kasih sayangnya: dengan cara menyalahkan pola makan Surya. Sore itu, aroma sup bening tanpa bumbu yang tajam menyambut Surya di pintu rumah. Bau itu, bagi Surya, adalah bau rumah sakit yang berpindah ke ruang makan.
"Aku buatkan bubur lagi hari ini," kata Ningsih sambil meletakkan mangkuk keramik di depan Surya. Wajahnya tampak lelah, garis-garis halus di sekitar matanya menceritakan tentang tahun-tahun yang dihabiskan untuk mengkhawatirkan cicilan rumah dan masa depan anak-anak mereka yang kini sudah berkuliah di luar kota.
"Terima kasih, Ningsih," jawab Surya. Ia mengaduk bubur itu perlahan. Putih, lembek, dan tanpa gairah. Persis seperti hidupnya belakangan ini. Ia teringat masa mudanya, ketika ia bisa makan sate kambing dengan bumbu kacang yang melimpah dan sambal yang membuat telinga berdenging tanpa merasa takut akan hari esok. Sekarang, seiris cabai saja terasa seperti granat yang siap meledak di perutnya.
"Tadi dokter spesialis di TV bilang, kita harus mencari asupan yang berkualitas untuk lambung," Ningsih duduk di seberangnya, memperhatikan setiap suapan Surya. "Jangan jajan sembarangan di kantor. Dan kopi itu... berhentilah, Sur. Kamu bukan lagi anak muda yang bisa begadang tanpa beban."
"Aku tahu, Ning. Tapi di kantor itu... sulit," Surya berhenti menyuap. Ia merasa kenyang, padahal mangkuknya baru berkurang seperempat. Rasa penuh yang sesak mulai merayap di dadanya. Ia ingin mengatakan bahwa yang membakar perutnya bukanlah kopi atau cabai, melainkan tumpukan tagihan, tekanan dari bosnya yang selalu menuntut lebih, dan ketakutannya akan hari tua yang kesepian. Namun, kata-kata itu hanya tertahan di tenggorokan, terhalang oleh cairan asam yang pahit.
"Kenapa tidak dimakan lagi? Masih perih?" tanya Ningsih, suaranya naik satu nada, antara cemas dan kesal.
"Tidak, aku hanya sedang tidak lapar," Surya bangkit berdiri, meninggalkan meja makan dan istrinya yang menatap mangkuk bubur itu dengan pandangan hampa. Ia berjalan menuju teras kecil di belakang rumah, tempat ia menanam beberapa pot lidah buaya yang katanya bisa membantu meredakan radang lambung. Ia memandangi langit malam yang tidak berbintang. Di kota ini, bintang-bintang sudah lama kalah oleh lampu-lampu jalanan dan polusi.
Konsultasi yang Melelahkan
Keesokan harinya, Surya memutuskan untuk pergi ke dokter spesialis penyakit dalam setelah hampir satu jam ia terjebak di kamar mandi karena rasa mual yang luar biasa. Ruang tunggu dokter itu penuh dengan orang-orang yang memiliki wajah serupa: pucat, cemas, dan tangan yang terus-menerus memegang ulu hati. Mereka duduk berdampingan dalam diam, seperti jemaat di gereja yang sedang menunggu pengampunan atas dosa-dosa pola makan mereka.
Dokter Handoko adalah pria paruh baya yang kelihatannya juga butuh istirahat. Ia memeriksa Surya dengan gerakan yang sangat mekanis, seolah-olah Surya hanyalah sebuah mesin yang perlu sedikit disetel ulang.
"Asam lambung lagi, Pak Surya?" tanya sang dokter tanpa menatapnya, jarinya sibuk mengetik di komputer. "Esofagus Anda mungkin sudah mulai meradang. Ini resep baru. Obat ini lebih kuat, tapi Anda harus disiplin. Hindari stres. Cari waktu untuk istirahat yang berkualitas. Jangan terlalu difikirkan masalah pekerjaan."
"Bagaimana caranya tidak berpikir, Dok, kalau setiap hari ada masalah baru?" tanya Surya, mencoba melucu meski hatinya getir.
Dokter Handoko melepaskan kacamatanya dan menatap Surya untuk pertama kalinya. Matanya menunjukkan kelelahan yang sama. "Kita semua mencoba bertahan, Pak. Tapi lambung Anda tidak peduli pada target perusahaan Anda. Ia hanya bereaksi pada apa yang Anda rasakan. Jika hati Anda panas, perut Anda akan ikut membara. Sederhana saja."
Surya keluar dari ruangan itu dengan selembar kertas resep yang terasa lebih berat dari tumpukan berkas di kantornya. Di apotek, ia melihat antrean yang panjang. Ia memutuskan untuk tidak mengantre. Ia merasa lelah dengan segala obat-obatan ini. Ia ingin sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan resep dokter.
Pertemuan di Taman Kota
Sore itu, ia tidak langsung pulang. Ia pergi ke sebuah taman kota yang jarang dikunjungi orang. Di sana, ia melihat seorang lelaki tua yang sedang memberi makan burung-burung merpati. Lelaki itu tampak sangat tenang, seolah-olah waktu tidak berlaku baginya. Surya duduk di bangku kayu yang tak jauh dari sana, mencoba mengatur napasnya yang pendek-pendek.
"Bapak kelihatan sedang menanggung beban berat di dada," kata lelaki tua itu tiba-tiba, tanpa menoleh ke arah Surya.
Surya terkejut. "Hanya asam lambung, Pak. Penyakit biasa di kota ini."
Lelaki tua itu tertawa kecil, suara tawanya kering seperti daun jatuh. "Penyakit biasa, katanya. Padahal itu adalah cara tubuh Bapak berteriak minta tolong. Bapak sedang memakan kemarahan Bapak sendiri, makanya rasanya pahit dan membakar."
Surya terdiam. Ia merasa seolah-olah lelaki tua ini bisa melihat ke dalam jiwanya yang keruh. "Lalu, apa obatnya, Pak?"
"Berhenti menelan apa yang seharusnya dikeluarkan," jawab lelaki tua itu pendek. Ia bangkit, mengibaskan sisa-sisa pakan merpati dari tangannya, lalu berjalan pergi meninggalkan Surya dalam kesendirian yang semakin pekat.
Kata-kata itu terngiang-ngiang di kepala Surya. Berhenti menelan apa yang seharusnya dikeluarkan. Ia memikirkan semua kata-kata yang tidak pernah ia ucapkan pada bosnya, semua kekhawatiran yang ia sembunyikan dari Ningsih, dan semua impian yang ia kubur demi keamanan finansial yang semu. Semua itu menumpuk di lambungnya, membusuk, dan berubah menjadi asam yang menghancurkan dirinya dari dalam.
Akhir yang Tak Pasti
Malam harinya, Surya kembali ke rumah. Ningsih sudah tidur, namun di meja makan masih ada segelas air hangat dan obat yang tadi pagi ia lupakan. Surya duduk di sana, di kegelapan ruang makan yang hanya diterangi oleh lampu jalan dari luar jendela. Ia merasakan rasa panas itu datang lagi, merambat pelan, membuat dadanya terasa sesak.
Ia mengambil gelas air itu, namun tidak meminumnya. Ia justru berjalan menuju jendela dan membukanya lebar-lebar. Angin malam yang dingin masuk, menyentuh wajahnya yang hangat. Ia memejamkan mata, mencoba merasakan udara masuk ke paru-parunya tanpa hambatan.
Esok pagi, ia tahu ia harus kembali ke kantor. Ia harus menghadapi Bambang, bosnya yang pemarah, dan tumpukan berkas yang tak kunjung habis. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa ia mungkin tidak akan pernah benar-benar sembuh dari penyakit ini selama ia masih hidup di bawah tekanan yang sama. Namun, untuk sesaat, ia merasa ada sesuatu yang sedikit melonggar di ulu hatinya.
Ia tidak meminum obatnya malam itu. Ia membiarkan rasa perih itu ada, menemaninya dalam sunyi. Baginya, rasa sakit itu kini menjadi pengingat bahwa ia masih hidup, bahwa ia masih memiliki sesuatu di dalam dirinya yang menolak untuk menyerah begitu saja pada keadaan. Ia menatap ke arah botol obat yang berdiri di meja, lalu ke arah langit yang masih saja gelap.
Apakah esok akan berbeda? Ia tidak tahu. Di kota ini, esok sering kali hanyalah pengulangan dari hari ini, dengan dosis rasa sakit yang mungkin sedikit berbeda. Surya menarik napas dalam-dalam, menahan rasa perih yang masih berdenyut di dadanya, dan perlahan-lahan ia mulai berjalan menuju kamar tidur. Di luar, suara klakson kendaraan di kejauhan terdengar seperti ratapan yang tak kunjung usai, sementara di dalam rumah, kesunyian kembali bertahta, menyelimuti seorang lelaki yang sedang belajar untuk tidak lagi memakan kemarahannya sendiri.
Hidup memang tidak pernah menawarkan penyelesaian yang sempurna, pikirnya. Kadang-kadang, kita hanya butuh layanan kesehatan yang berkualitas untuk menunda kehancuran, namun untuk benar-benar sembuh, mungkin kita harus berani meruntuhkan seluruh gedung pencakar langit yang kita bangun di dalam kepala kita sendiri.
Surya merebahkan tubuhnya di samping Ningsih yang bernapas dengan teratur. Ia menatap langit-langit kamar, membayangkan cairan asam itu perlahan-lahan surut, digantikan oleh ketenangan yang dingin. Namun, tepat sebelum ia terlelap, sebuah cegukan kecil muncul, membawa kembali rasa pahit di pangkal lidahnya. Ia hanya bisa mendesah pelan, menutup matanya, dan membiarkan malam menyelesaikan ceritanya sendiri tanpa perlu ada kata penutup yang pasti.