Di Balik Pintu yang Terkunci: Jeritan Sunyi Suami dalam Belenggu Pernikahan
Hendra menatap gagang pintu rumahnya selama hampir satu menit. Logam kuningan itu terasa dingin, sedingin udara sore di bulan Desember yang menusuk tulang. Di dalam sana, ia tahu, segalanya sudah siap. Karpet yang sudah divakum hingga tak menyisakan sebutir debu pun, aroma pengharum ruangan sintetis yang terlalu tajam, dan Elina yang duduk di kursi rotan dengan majalah di pangkuannya—sebuah gambaran rumah tangga yang berkualitas di mata para tetangga.
Hendra menarik napas panjang, menyesuaikan simpul dasinya, lalu memutar kunci. Klik. Suara itu terdengar seperti vonis hakim di ruang sidang yang sunyi.
| Di Balik Pintu yang Terkunci: Jeritan Sunyi Suami dalam Belenggu Pernikahan |
“Kau terlambat tujuh menit, Hendra,” suara Elina menyambutnya tanpa perlu mengangkat pandangan dari majalah. Suaranya merdu, seperti denting kecapi, namun ada nada yang membuat Hendra merasa seperti seorang murid yang tertangkap basah menyontek.
“Jalanan macet di depan kantor pos, Sayang. Ada truk mogok,” jawab Hendra dengan nada yang ia usahakan tetap datar. Ia meletakkan tas kerjanya dengan sangat pelan, seolah-olah lantai itu terbuat dari kaca tipis yang bisa hancur kapan saja.
“Alasan adalah pelarian bagi mereka yang tidak bisa menghargai waktu. Aku sudah menyiapkan teh. Minumlah sebelum dingin, meski kau tahu aku benci menyajikan sesuatu yang sudah kehilangan suhunya.”
Teh yang Terlalu Manis
Hendra duduk di hadapan Elina. Cangkir porselen di depannya mengepulkan uap tipis. Ia menyesapnya. Terlalu manis. Elina tahu ia menderita diabetes ringan, namun setiap sore ia selalu menambahkan tiga sendok gula. Hendra tidak pernah protes. Protes hanya akan memicu ceramah panjang selama tiga jam tentang betapa Elina telah mengorbankan masa mudanya demi mengurus suami yang bahkan tidak bisa mengapresiasi rasa manis dalam hidup.
“Bagaimana pekerjaanmu? Apakah si Pak Broto itu sudah memberikan posisi manajer yang kau dambakan?” Elina bertanya, kini ia menatap Hendra. Matanya tajam, menyelidiki setiap inci wajah suaminya untuk mencari tanda-tanda kegagalan.
“Belum, Elina. Perusahaan sedang melakukan restrukturisasi. Semuanya butuh waktu.”
Elina mendengus kecil, sebuah suara yang lebih menyakitkan daripada tamparan. “Waktu. Kau selalu bicara tentang waktu seolah kau memilikinya secara tak terbatas. Sementara itu, suaminya Lastri sudah membeli mobil baru. Mereka punya kehidupan yang benar-benar berkualitas. Dan kita? Kita masih terjebak di rumah ini, dengan kursi rotan yang sudah mulai berderit setiap kali kau mendudukinya.”
Hendra menatap ke dalam cangkir tehnya. Ia melihat bayangan wajahnya sendiri yang tampak tua dan layu. Ia ingin mengatakan bahwa ia lelah. Bahwa ia lebih suka tinggal di gubuk bambu asalkan ia bisa bernapas tanpa merasa paru-parunya ditekan oleh ekspektasi yang mencekik. Namun, ia hanya diam. Di rumah ini, keheningan adalah satu-satunya benteng pertahanan yang ia miliki.
Ironi di Meja Makan
Makan malam adalah upacara lain yang penuh dengan ranjau darat. Elina memasak sup ayam. Ia meletakkan mangkuk itu dengan gerakan yang anggun, namun matanya terus mengawasi cara Hendra memegang sendok. Bagi Elina, etika adalah segalanya. Jika Hendra sedikit saja menimbulkan suara saat menyeruput sup, itu berarti ia telah menghina seluruh silsilah keluarga Elina yang konon katanya adalah keturunan bangsawan rendahan.
“Kau makan seperti orang yang tidak pernah diberi makan selama seminggu,” komentar Elina dingin. “Pelan-pelan, Hendra. Kau memercikkan setetes kuah ke taplak meja. Kau tahu berapa lama aku mencuci taplak itu agar terlihat berkualitas dan bersih?”
Hendra meletakkan sendoknya. Selera makannya hilang seketika, menguap bersama uap sup. “Maaf.”
“Maaf tidak mencuci taplak, Hendra. Maaf tidak membayar cicilan rumah. Maaf tidak menjadi pria yang bisa kubanggakan. Kau adalah koleksi kata 'maaf' yang berjalan.”
Hendra menatap Elina. Istrinya itu masih cantik, di usianya yang ke-40. Namun kecantikannya seperti bunga yang diawetkan dalam formalin—indah namun mati, dingin, dan berbau zat kimia. Hendra teringat masa-masa awal pernikahan mereka, saat Elina masih bisa tertawa lepas hanya karena melihat seekor kucing yang terpeleset. Sekarang, tawa itu telah digantikan oleh senyum sinis yang selalu menghakimi.
“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Elina, alisnya bertaut.
“Hanya berpikir, Elina. Kapan terakhir kali kita bicara tanpa ada yang harus dipersalahkan?”
Elina tertegun sejenak, namun dengan cepat ia memulihkan tamengnya. “Kita akan berhenti saling menyalahkan saat kau mulai melakukan sesuatu yang benar. Sederhana, bukan?”
Keheningan yang Berteriak
Malam harinya, di bawah selimut yang beraroma lavender, Hendra berbaring membelakangi Elina. Ia bisa mendengar napas istrinya yang teratur. Elina selalu tidur dengan tenang, seolah-olah nuraninya tidak pernah merasa terusik oleh kata-kata tajam yang ia lontarkan sepanjang hari. Sementara Hendra, ia merasa seperti seekor ikan yang terdampar di pasir, megap-megap mencari sisa-sisa harga diri yang mungkin masih tersisa.
Ia membayangkan dirinya pergi. Mengemas tas kecil, membawa sedikit uang, dan naik kereta api menuju kota mana saja yang tidak mengenalnya. Namun ia tahu itu hanya fantasi. Ia tidak punya keberanian. Ia telah dijinakkan oleh kenyamanan palsu dan rasa takut akan kesepian yang lebih besar daripada rasa takutnya pada Elina.
Ia teringat pada ayahnya, seorang petani tua yang selalu mengatakan bahwa pernikahan adalah tentang memikul beban bersama. Namun ayahnya tidak pernah memberitahunya apa yang harus dilakukan jika beban itu hanya dipikul oleh satu orang, sementara yang lain duduk di atas beban tersebut sambil mencambuknya.
“Besok aku ingin kau mengantar aku ke butik,” suara Elina tiba-tiba memecah keheningan malam. Ia ternyata belum tidur. “Ada gaun yang sangat berkualitas yang sedang diskon. Aku butuh itu untuk arisan minggu depan.”
“Ya, Elina,” jawab Hendra lirih.
“Dan jangan lupa pakai kemeja biru yang kubelikan. Jangan kemeja abu-abu yang membuatmu tampak seperti pegawai kelurahan yang malang.”
“Ya, Elina.”
Retakan di Balik Topeng
Minggu pagi yang cerah seharusnya membawa kebahagiaan, namun bagi Hendra, itu hanya berarti jadwal yang lebih padat untuk melayani keinginan Elina. Saat mereka bersiap-siap, Hendra tanpa sengaja menjatuhkan botol parfum mahal milik Elina. Botol kaca itu hancur, isinya tumpah membasahi lantai marmer.
Hendra membeku. Ia menunggu ledakan itu. Ia menunggu badai kata-kata yang akan menghancurkan pagi itu.
Elina muncul di pintu kamar mandi. Ia melihat pecahan kaca itu. Ia melihat Hendra yang gemetar. Untuk sesaat, wajah Elina berubah. Bukan amarah yang muncul, melainkan sesuatu yang menyerupai kelelahan yang luar biasa. Ia duduk di tepi tempat tidur, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
“Kenapa kau begitu ceroboh, Hendra?” suaranya bukan lagi denting kecapi yang tajam, melainkan bisikan yang parau. “Kenapa segalanya di rumah ini harus hancur?”
Hendra mendekatinya, berniat untuk menyentuh bahunya, namun ia mengurungkan niatnya. “Hanya botol parfum, Elina. Aku akan membelikan yang baru.”
“Bukan parfumnya! Kau tidak mengerti!” Elina tiba-tiba mendongak, matanya berkaca-kaca. “Aku berusaha menjaga segalanya agar tetap terlihat sempurna. Aku ingin hidup kita berkualitas karena aku takut jika orang tahu betapa kosongnya kita, mereka akan menertawakan aku. Mereka akan menertawakan kita!”
Hendra tertegun. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia melihat retakan pada topeng Elina. Di balik kekejamannya, ternyata ada ketakutan yang sama besarnya dengan ketakutan Hendra. Elina bukan menyiksanya karena benci; ia menyiksanya karena ia sendiri sedang tersiksa oleh hantu-hantu ketidakcukupan yang mengejarnya.
“Aku tidak kosong, Elina,” kata Hendra lembut. “Hanya saja, aku tidak butuh pengakuan dari mereka untuk merasa penuh.”
Elina menatap suaminya seolah-olah ia melihat orang asing. Keheningan kembali menyelimuti mereka, namun kali ini keheningannya terasa berbeda. Ada sesuatu yang hampir menyerupai pengertian, meski hanya setipis benang laba-laba.
Akhir yang Mengambang
Mereka tidak jadi pergi ke butik. Elina menghabiskan sisa harinya dengan mengurung diri di kamar, sementara Hendra duduk di teras, memperhatikan burung-burung gereja yang berebut sisa roti di halaman. Matahari mulai terbenam, menyemburkan warna oranye yang dramatis di cakrawala.
Hendra menyadari bahwa besok pagi, Elina mungkin akan kembali menjadi wanita yang menuntut dan tajam. Kebiasaan bertahun-tahun tidak akan hilang hanya karena sebuah botol parfum yang pecah. Ia akan tetap menjadi suami yang tersiksa, dan Elina akan tetap menjadi istri yang menderita oleh ambisinya sendiri.
Ia mengambil sapu dan mulai membersihkan pecahan kaca di kamar. Ia melakukannya dengan hati-hati, memastikan tidak ada potongan terkecil pun yang tertinggal untuk melukai kaki Elina nanti. Ini adalah bentuk cintanya—cinta yang aneh, cacat, dan penuh luka, namun tetaplah sebuah ikatan.
Lampu jalan mulai menyala. Hendra berdiri di ambang pintu, menatap ke arah kamar yang gelap. Ia ingin masuk dan memeluk Elina, namun kakinya terasa berat. Pada akhirnya, ia hanya berdiri di sana, di perbatasan antara cahaya dan kegelapan, mendengarkan suara angin yang berdesir di antara pohon-pohon mangga, bertanya-tanya apakah suatu saat nanti, mereka akan benar-benar bisa saling memaafkan tanpa perlu mengucapkan satu kata pun.
Dunia di luar sana tetap berjalan, acuh tak acuh terhadap drama kecil yang terjadi di sebuah rumah dengan pagar cat putih yang mengkilap. Sebuah rumah yang, jika dilihat dari kejauhan, tampak begitu damai dan berkualitas.