Di Balik Layar Laptop: Siswa MTsN 4 Seluma Melatih Mental dan Waktu Menjelang TKA
Pagi Dingin di Seluma, Semangat Hangat di Ruang Kelas
Pada Selasa pagi, 24 Februari 2026, deru kipas laptop memenuhi sebuah ruang kelas di MTsN 4 Seluma, Kabupaten Seluma. Cahaya layar yang terpancar di wajah para siswa kelas IX menciptakan kontras yang kuat: dari luar, suara burung dan angin pagi masih terdengar alami, namun di dalam ruangan itu, mereka sedang memasuki ruang ujian digital yang menuntut ketelitian dan ketenangan. Sebuah simulasi Tes Kemampuan Akademik (TKA) berbasis digital tengah berlangsung—bukan sekadar latihan biasa, melainkan gladi bersih menuju ujian sesungguhnya.
| Di Balik Layar Laptop: Siswa MTsN 4 Seluma Melatih Mental dan Waktu Menjelang TKA |
Kegiatan ini, sebagaimana diinformasikan melalui rilis resmi Kantor Kementerian Agama setempat, menjadi bagian dari strategi sistematis madrasah dalam menyiapkan siswa menghadapi standar evaluasi berbasis Computer Based Test (CBT) yang kini diterapkan secara luas.
Teknologi yang Membentuk Mental Ujian
Simulasi tersebut bukan hanya soal memindahkan lembar jawaban ke layar monitor. Setiap klik mouse, setiap hitungan mundur waktu yang tampil di pojok layar, menjadi latihan mental menghadapi tekanan. Para siswa dipaksa berdamai dengan detik yang terus berjalan, sekaligus memastikan jawaban yang mereka pilih benar-benar matang.
Di antara barisan bangku, guru pendamping bergerak pelan, memantau layar demi layar. Sesekali mereka membantu siswa yang mengalami kendala teknis ringan. Tidak ada kepanikan, tidak ada suara gaduh. Yang terdengar hanya ketukan keyboard dan bisikan pelan tentang strategi mengatur waktu.
Bukan Hanya Soal, Ini Persiapan Strategi
Operator madrasah, Iskadi, menegaskan bahwa esensi kegiatan ini lebih dalam dari sekadar menjawab soal latihan. Menurutnya, simulasi dirancang untuk membangun kebiasaan berpikir sistematis dan disiplin waktu. “Anak-anak harus terbiasa dengan ritme ujian digital. Bukan hanya paham materi, tapi juga paham cara menaklukkan sistemnya,” ujarnya saat memantau jalannya simulasi.
Latihan ini menjadi semacam laboratorium kecil: tempat siswa menguji kemampuan akademik sekaligus mengasah kesiapan teknologi yang kini menjadi wajah baru sistem pendidikan nasional.
Kepala Madrasah: Membaca Data, Menyusun Strategi
Kepala MTsN 4 Seluma, Dr. Liyaslianto, melihat simulasi ini sebagai alat ukur yang konkret. Dari hasil yang diperoleh, pihak madrasah dapat memetakan kekuatan dan kelemahan siswa secara lebih presisi. Bukan sekadar mengetahui siapa yang mendapat nilai tinggi atau rendah, tetapi mengidentifikasi mata pelajaran mana yang memerlukan penguatan intensif sebelum ujian resmi digelar.
Baginya, simulasi ini adalah bagian dari program sukses ujian 2026. “Kami ingin memastikan tidak ada siswa yang menghadapi ujian dalam kondisi gagap teknologi atau kurang percaya diri,” tegasnya.
Antusiasme yang Mengikis Kekhawatiran
Menariknya, suasana yang semula terasa tegang perlahan berubah menjadi lebih percaya diri. Beberapa siswa yang biasanya tampak ragu di kelas justru terlihat lebih fokus saat berhadapan dengan layar. Ada yang menatap serius grafik waktu, ada pula yang menyesuaikan strategi setelah menyadari soal tertentu memakan waktu lebih lama.
Simulasi ini menjadi cermin kecil perubahan pendidikan: dari papan tulis dan kapur menuju dunia digital yang serba cepat. Di ruang kelas sederhana itu, transformasi tersebut terasa nyata.
Penutup: Ujian Sesungguhnya Bukan Hanya di Layar
Di balik layar laptop yang menyala, para siswa MTsN 4 Seluma tidak hanya berlatih menjawab soal. Mereka sedang menata kepercayaan diri, mengelola tekanan, dan belajar beradaptasi dengan sistem yang terus berubah. Simulasi ini mungkin berlangsung beberapa jam, tetapi dampaknya bisa menentukan arah perjalanan akademik mereka ke depan. Pendidikan hari ini bukan lagi sekadar tentang apa yang diketahui, melainkan bagaimana kesiapan menghadapi tantangan zaman. Untuk laporan mendalam dan analisis pendidikan lainnya, kunjungi https://www.kangruli.web.id.