Jejak-Jejak yang Mencari Rumah di Antara Lembaran Waktu

Sebuah Catatan Perjalanan Komunitas Dampal Menemui Ngejah

Jejak-Jejak yang Mencari Rumah di Antara Lembaran Waktu
Jejak-Jejak yang Mencari Rumah di Antara Lembaran Waktu

Prolog: Tentang Kaki yang Tak Pernah Lelah Melangkah

Barangkali, hidup adalah serangkaian perjalanan panjang untuk menemukan kepingan diri yang tercecer di tempat-tempat yang jauh. Kita sering kali merasa cukup dengan apa yang ada di depan mata, terkurung di balik dinding-dinding kampus yang dingin, merasa bahwa dunia hanya selebar ruang kuliah dan sebatas tumpukan diktat yang harus dihafal. Namun, ada kalanya hati kecil memberontak. Ada rindu yang tak bernama, yang mengajak kaki untuk melangkah keluar, menembus batas kenyamanan, mencari sesuatu yang lebih purba daripada sekadar nilai di atas kertas transkrip.

Di sanalah kami bermula. Sekelompok mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang menamai diri kami Komunitas Dampal. Sebuah nama yang terdengar sederhana, “Dampal” (telapak kaki), namun menyimpan filosofi yang begitu dalam tentang kerendahhatian dan keberanian untuk menapaki bumi. Kami adalah para pencinta sejarah, penggali masa lalu yang percaya bahwa debu-debu zaman menyimpan jawaban untuk masa depan. Namun, kami sadar, sejarah bukan hanya tentang candi yang diam atau naskah kuno yang berdebu. Sejarah juga tentang hari ini. Tentang bagaimana kita menulis cerita di halaman waktu yang sedang berjalan.

Hari itu, Senin, 8 Februari, langit seolah merestui niat kami. Misi kami sederhana namun berat: mewujudkan kampus yang berbudaya literat. Tapi, bagaimana mungkin kami mengajak orang lain mencintai buku jika kami sendiri tidak menyelami napas para pegiat literasi yang sesungguhnya? Maka, dengan semangat yang masih hijau namun menyala-nyala, kami memutuskan untuk nyucruk galur—menelusuri jejak—ke sebuah tempat di mana literasi bukan sekadar slogan, melainkan detak jantung.

Tujuan kami adalah Komunitas Ngejah. Sebuah nama yang sudah tak asing, bergaung dari pelosok Garut Selatan hingga ke telinga nasional.

Bagian I: Menjemput Matahari di Jalan Sunyi

Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan fisik dari satu koordinat ke koordinat lain. Ini adalah ziarah batin. Sejak Minggu pagi, roda-roda kendaraan kami telah berputar, meninggalkan hiruk-pikuk Bandung yang tak pernah tidur. Kami singgah di Candi Cangkuang di Leles, menyapa sisa-sisa peradaban masa lalu yang tenang di tengah danau. Lalu kami melanjutkannya ke Kampung Naga di Salawu, Tasikmalaya, belajar pada kesederhanaan masyarakat yang memegang teguh adat di tengah gempuran modernitas.

Namun, tujuan utama kami masih menunggu di ujung sana. Di perbatasan Garut dan Tasik Selatan. Tepatnya di Desa Sukawangi, Kecamatan Singajaya.

Perjalanan menuju Singajaya adalah ujian kesabaran. Jalanan yang berliku, tanjakan yang menguji mesin dan nyali, serta pemandangan alam yang perlahan berubah dari beton menjadi hijau yang menyejukkan mata. Di setiap kelokan, ada rasa lelah yang merayap, tapi entah mengapa, rasa lelah itu terasa manis. Mungkin karena kami tahu, kami sedang bergerak menuju sesuatu yang baik. Seperti seorang kekasih yang menempuh jarak ribuan mil demi menemui pujaan hatinya, lelah di jalan hanyalah bumbu penyedap pertemuan.

Ketika roda kendaraan akhirnya menyentuh tanah Sukawangi, ada perasaan yang sulit dilukiskan. Udara di sini berbeda. Lebih bersih, lebih jujur. Di sinilah, di Jalan Surapati No. 01, sebuah kisah inspiratif sedang ditulis setiap hari oleh orang-orang biasa yang memiliki mimpi luar biasa.

Bagian II: "Bade Sorogan" dan Mutiara dalam Kubangan

Senin pagi itu, kami tiba di depan gerbang Saung Baca Komunitas Ngejah. Mangkubumi Dampal—julukan unik untuk sang sekretaris di kerajaan kecil kami—maju ke depan. Dengan santun, ia membuka pembicaraan dengan salah satu relawan Ngejah yang menyambut kami.

"Bade Sorogan," ujarnya pelan.

Dua kata bahasa Sunda itu terdengar begitu sakral. Sorogan bukan sekadar bertamu atau menyetor hafalan; dalam tradisi pesantren, sorogan adalah metode belajar face-to-face dengan kyai. Di sini, maknanya meluas. Kami datang sebagai murid kehidupan, hendak menyetorkan niat, hendak belajar dari mereka yang telah lebih dulu berbuat. Kami datang dengan gelas kosong, siap diisi.

Saat kaki kami benar-benar menginjak area Ngejah, mata kami terbelalak. Patih Dampal, salah satu punggawa kami, bergumam lirih, "Bagai mutiara dalam kubangan."

Ungkapan itu tidak berlebihan. Di tengah desa perbatasan yang jauh dari akses kemewahan kota, di bawah kaki gunung yang sunyi, berdiri sebuah oase peradaban. Kami melihat pojok baca yang tertata rapi, bukan di dalam gedung kaca ber-AC, melainkan di tempat yang paling tak terduga: di depan pangkalan ojek dan warung bala-bala.

Bayangkan. Di tempat lain, pangkalan ojek mungkin identik dengan asap rokok dan obrolan kosong yang menguap begitu saja. Tapi di sini? Di sini buku bersanding dengan helm. Di sini, para pengojek dan warga bisa menunggu penumpang sembari melahap ilmu. Warung gorengan bukan hanya tempat mengisi perut, tapi juga tempat mengisi kepala. Pemandangan ini menampar kesadaran kami. Betapa seringnya kami, mahasiswa kota, mengeluh tentang fasilitas perpustakaan kampus yang kurang lengkap, sementara di sini, di tepian Garut, literasi tumbuh subur di atas tanah yang sederhana.

Keceriaan menyeruak dari setiap sudut. Kami melihat Ngejah Junior—anak-anak kecil penerus masa depan kampung ini—berlarian di sekitar saung. Tawa mereka renyah, tanpa beban. Ada pula sosok Ade Lukman, relawan yang tengah sibuk, tenggelam dalam dunianya membereskan buku-buku yang berserakan di rumah komik. Kesibukan yang sunyi, namun penuh makna.

Tak ingin melewatkan momen magis ini, Prabu, Patih, Mangkubumi, dan para Senopati Dampal segera mengeluarkan ponsel. Selfie. Ya, kami tetaplah anak muda. Namun, foto-foto yang kami ambil hari itu bukan sekadar untuk pamer di media sosial. Itu adalah cara kami membekukan waktu, merekam bukti bahwa harapan itu nyata.

Bagian III: Persinggahan Hati di Abatasa

Namun, sebelum kami benar-benar larut dalam pelukan Ngejah, Prabu Dampal memiliki intuisi lain. Kami harus menyambangi saudaranya terlebih dahulu. Saung Baca Abatasa. Lokasinya di Bojonggambir, Tasikmalaya bagian Selatan. Ini adalah sub-organ dari Ngejah.

Kami bergerak lagi. Menembus jalanan desa menuju Bojonggambir. Di sana, kami sudah memiliki agenda "Dampal Mengajar", sebuah niat untuk berbagi cerita tentang dunia perkuliahan dan diskusi tentang Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dengan siswa SMK setempat. Kami ingin memberi tahu adik-adik itu bahwa dunia di luar sana luas, dan mereka punya kesempatan yang sama untuk menaklukkannya.

Sayangnya, hidup tidak selalu berjalan sesuai skenario. Ada misscommunication dengan pihak sekolah. Rencana mengajar sedikit terhambat. Kekecewaan sempat singgah sebentar di wajah kami. Tapi, bukankah perjalanan selalu tentang kejutan?

Kekecewaan itu seketika luruh saat kami bertemu Kang Ato.

Kang Ato adalah pendiri Pojok Baca Abatasa. Sosoknya sederhana, tapi matanya memancarkan api semangat yang tak kunjung padam. Ia menyambut kami dengan hangat, seolah kami adalah saudara jauh yang pulang ke rumah. Di tengah kesibukannya mengurus gerakan "Bojonggambir Membaca", ia meluangkan waktu untuk kami.

Suguhan obrolan dengan Kang Ato menjadi penawar segala lelah dan kecewa. Kami berdiskusi santai, namun isinya "daging" semua. Kami bicara tentang betapa seksinya gerakan literasi. Bahwa mengajak orang membaca itu bukan pekerjaan membosankan, melainkan seni merayu jiwa. Kang Ato menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah tembok penghalang, melainkan tantangan yang harus diloncati. Di saung Abatasa yang sederhana itu, kami merasa kenyang. Bukan hanya oleh gorengan, tapi oleh inspirasi. Foto bersama di sana menjadi penutup sesi yang lezat, sebuah kenangan yang akan kami simpan rapi di saku ingatan.

Bagian IV: Kembali ke Rahim Ngejah

Matahari mulai meninggi ketika kami kembali ke pusat semesta perjalanan ini: Komunitas Ngejah di Sukawangi. Jam menunjukkan pukul 10.35 WIB.

Suasana di sana semakin hidup. Kendaraan bermotor terparkir rapi di depan Mading Balarea, seolah menjadi saksi bisu betapa ramainya tempat ini dikunjungi pencari ilmu. Kami melihat pemandangan yang membuat hati berdesir. Anak-anak dari kampung sebelah datang, meminjam buku, mengembalikan buku, berinteraksi dengan Ade Lukman. Di sudut lain, siswa SMA sedang serius mengikuti kursus komputer—sebuah keterampilan mahal yang di sini diberikan dengan cuma-cuma demi masa depan mereka.

Di sana, di tengah keramaian yang produktif itu, kami melihatnya. Sosok itu. Kang Nero Taupik Abdillah. Sang Presiden Komunitas Ngejah.

Ia sedang berdiskusi dengan para relawan. Di dekatnya, ada Abah Ersa dan anak-anak VOB (Voice of Baceprot) yang sedang asyik bercanda tawa. VOB, band metal berhijab yang kelak akan mengguncang panggung dunia, saat itu masihlah tunas-tunas muda yang ditempa di kawah candradimuka bernama Ngejah.

Kami diarahkan menuju saung baca utama. Diperkenalkan kembali dengan komunitas yang pada tahun 2014 sempat "digerebek" oleh acara Kick Andy On Location. Ada aura kebanggaan, namun bukan kesombongan.

Diskusi yang kami nantikan pun dimulai. Air mengalir, begitu pula kata-kata Kang Nero.

Bagian V: Dialog Tentang Sejarah dan Masa Depan

Duduk melingkar bersama Kang Nero adalah seperti duduk di tepi telaga ilmu. Topik demi topik dikupasnya dengan apik dan ciamik. Kang Nero bukan hanya seorang aktivis; dia adalah seorang pencerita yang ulung. Ia membedah literasi sejarah dengan perspektif yang segar, membuat kami, mahasiswa jurusan Sejarah, terkadang merasa tertampar.

Kami menumpahkan sekelumit keresahan kami tentang dunia perkuliahan. Tentang kejenuhan, tentang ketidakpastian masa depan, tentang pertanyaan klasik mahasiswa: "Habis lulus, mau jadi apa?"

Kang Nero tersenyum. Senyum yang menenangkan. Ia menjawab keresahan itu bukan dengan teori muluk-muluk, melainkan dengan kisah hidupnya sendiri. Ia berbagi pengalaman saat duduk di bangku kuliah, tentang jejak-jejak yang ia tinggalkan di kampusnya, dan puncaknya, tentang keputusannya untuk "pulang".

Pulang kampung seringkali dianggap sebagai kemunduran bagi sebagian sarjana. Tapi bagi Kang Nero, pulang adalah awal dari perjuangan sesungguhnya. Ia memilih untuk mengukir sejarah, menghidupkan denyut nadi kampung halamannya yang sempat mati suri. Ia tidak menunggu pemerintah turun tangan, ia tidak menunggu bantuan datang dari langit. Ia bergerak. Memulai dari nol. Memulai dari apa yang ia punya.

Patih Dampal, yang sedari tadi menyimak dengan takzim, tak henti-hentinya melontarkan pertanyaan. Ia penasaran tentang resep kegigihan Ngejah. Bagaimana bisa bertahan selama 5 tahun? Bagaimana bisa membangun semua ini di tempat terpencil?

Jawaban Kang Nero selalu kembali pada satu hal: Cinta dan Konsistensi.

Bahkan, diskusi itu berbuah manis. Kang Nero menyambut hangat antusiasme kami dengan sebuah tawaran kerjasama. Ia mengajak Komunitas Dampal untuk berkolaborasi dalam pelestarian seni budaya lokal. Sebuah kehormatan besar bagi kami, komunitas yang masih "hijau", diajak berjalan beriringan dengan raksasa literasi kampung ini.

Lalu, sebuah tantangan dilemparkan.

"Akhir bulan ini Komunitas Ngejah akan mengadakan safari Gerakan Kampung Membaca (GKM) untuk Indonesia Membaca bersama Trooper Nusantara dan STMIK DCI Tasikmalaya," ujar Kang Nero, matanya menatap kami satu per satu, seolah menantang keberanian kami. "Kita akan menelusuri kampung-kampung terbelakang di sekitar Garut dan Tasik Selatan. Barangkali berminat menjadi relawan, dengan tidak mengesampingkan kuliah, mari bergabung dengan Ngejah di tanggal 26 sampai 28 Februari."

Hening sejenak. Itu adalah undangan jihad literasi. Ajakan untuk masuk ke hutan, ke pelosok, ke tempat-tempat di mana buku adalah barang mewah. Prabu dan Patih Dampal saling pandang, lalu mengangguk mantap. Sinyal kesediaan itu terpancar kuat. Kami ingin menjadi bagian dari sejarah itu.

Di penghujung diskusi, kami disuguhi penampilan akustik dari VOB. Suara mereka melengking, petikan gitar mereka menyayat. Musik, kopi cerdas, dan diskusi berat. Siang itu mencapai klimaksnya. Kami mabuk kepayang oleh atmosfer intelektual yang dibalut kesenian.

Bagian VI: Setiap Sudut Punya Cerita

Sebelum kami beranjak pulang, para relawan Ngejah mengajak kami berkeliling. Sebuah tur singkat menyusuri setiap jengkal "kerajaan" mereka.

Kami menyusuri Taman Baca a-i-u-e-o. Namanya lucu, tapi isinya serius. Kami masuk ke Rumah Komik. Kang Nero bertindak selayaknya Tour Guide profesional. Ia menjelaskan sejarah setiap senti bangunan itu.

"Dulu," katanya sambil menunjuk sebuah ruangan, "ini hanyalah kamar kecil."

Kami tertegun. Taman baca sekeren ini bermula dari kamar sempit yang dirombak berkali-kali. Tidak ada arsitek mahal, yang ada hanyalah gotong royong dan keringat para relawan yang bekerja dengan semangat menggelora. Dinding-dinding ini dibangun oleh mimpi yang tak mau tidur. Rak-rak buku ini disusun oleh harapan yang menolak menyerah.

Tak ada satu sudut pun yang terlewat dari jepretan kamera kami. Kami ingin merekam roh tempat ini. Agar kelak, ketika kami mulai lelah dengan rutinitas kampus, kami bisa melihat foto-foto ini dan mengingat bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang konsisten.

Foto bersama di akhir kunjungan menjadi momen perpisahan yang sedikit menyayat hati. Rasanya berat meninggalkan tempat ini. Rasanya kami ingin tinggal lebih lama, menyerap lebih banyak energi. Tapi kami tahu, kami harus pulang. Kami harus kembali ke Bandung, membawa api yang telah dipercikkan Kang Nero ke dalam jiwa kami.

Epilog: Jangan Cuma Jadi Penonton Sejarah

Dalam perjalanan pulang, di antara deru mesin dan angin yang menerpa wajah, kata-kata Kang Nero terus terngiang di kepala saya, berputar-putar seperti mantra yang tak mau pergi.

"Mahasiswa itu harus turun, terjun langsung ke lapangan. Jangan 'nyileungleum' (mengeram/berdiam diri) di kampus, 'kurun batok' (seperti katak dalam tempurung). Karena itu bukan mahasiswa, tapi pura-pura jadi mahasiswa."Nero Taupik Abdillah, Presiden Komunitas Ngejah.

Kata-kata itu menohok ulu hati. Berapa banyak dari kami yang selama ini hanya berpura-pura? Merasa hebat dengan jaket almamater, tapi buta pada realitas masyarakat di sekitar?

Dan kemudian, saya teringat kutipan lain yang sejalan dengan semangat hari ini. Sebuah kalimat dari Anies Baswedan yang pernah kami diskusikan di ruang kelas:

"Mempelajari sejarah itu penting, mengambil hikmah/makna dari sejarah penting, tapi sebagai generasi muda, justru menciptakan sejarah itu jauh lebih penting."

Komunitas Dampal datang ke Ngejah untuk belajar sejarah pergerakan literasi. Tapi kami pulang dengan misi baru: Kami tidak ingin hanya menjadi pencatat sejarah. Kami ingin menjadi pembuat sejarah.

Jalan pulang terasa lebih ringan. Langit sore tampak lebih indah dari biasanya. Kami tahu, kunjungan ini bukanlah sebuah akhir. Ini adalah awal dari babak baru. Awal dari kolaborasi, awal dari pengabdian. Jejak kaki (dampal) kami telah tertinggal di tanah Sukawangi, dan janji kami telah terucap untuk kembali.

Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa jauh kita pergi, tapi seberapa dalam jejak kebaikan yang kita tinggalkan. Dan hari ini, di perbatasan Garut-Tasik, kami belajar bahwa mutiara itu nyata, dan ia bersinar terang memanggil siapa saja yang mau peduli.

Post a Comment

Previous Post Next Post