Di Antara Rintik Hujan dan Jalan Pulang yang Masih Jauh

Di Antara Rintik Hujan dan Jalan Pulang yang Masih Jauh
Di Antara Rintik Hujan dan Jalan Pulang yang Masih Jauh

Bagian I: Langit yang Merajuk dan Jalanan yang Melukai

Barangkali, perjalanan selalu tentang bagaimana kita menaklukkan keraguan di dalam kepala sendiri, sebelum benar-benar menaklukkan jarak yang terbentang di depan mata. Hari itu, langit seolah sedang tidak ingin berdamai dengan rencana manusia. Awan menggantung rendah, kelabu dan berat, seperti menyimpan kesedihan purba yang siap ditumpahkan kapan saja. Dan benar saja, hujan turun bukan sekadar menyapa, melainkan menghunjam. Deras. Seolah semesta sedang memberi isyarat keras agar kami tetap diam di rumah, menarik selimut, dan melupakan mimpi untuk berbagi cerita dengan mereka yang jauh di sana.

Namun, rindu untuk berbagi seringkali lebih keras kepala daripada cuaca buruk.

Tujuan kami sudah terpatri dalam ingatan, meski jalannya belum terpetakan sempurna dalam rasa: Kampung Cinangsi, RT 03 RW 04, Desa Toblong, Kecamatan Peundeuy. Sebuah titik koordinat di peta yang mungkin bagi sebagian orang hanyalah nama asing, tetapi bagi kami, hari itu, ia adalah janji yang harus ditepati. Daerah ini adalah tapal batas, sebuah ujung pertemuan antara Kecamatan Peundeuy dan Kecamatan Cibalong. Di sanalah wajah-wajah polos menanti.

Kami berangkat dari titik awal, Kampung Sukawangi, Desa Peundeuy. Dalam hitungan logika normal dan cuaca yang bersahabat, jarak itu seharusnya bisa dilipat hanya dalam waktu tiga puluh menit. Setengah jam yang singkat. Namun, hidup seringkali tidak berjalan sesuai hitungan matematika di atas kertas. Hujan yang mengguyur tanpa ampun mengubah tanah menjadi bubur cokelat yang licin. Jalanan bukan lagi aspal mulus tempat roda berputar dengan riang, melainkan medan tempur yang penuh lubang menganga. Jalan-jalan itu terjal, rusak, dan seolah ingin menelan siapa saja yang lengah.

Setiap kali roda kendaraan kami terperosok ke dalam lubang yang tertutup genangan air, ada detak jantung yang memburu. Kabut turun perlahan, menyelimuti pandangan, membuat jarak pandang menjadi terbatas. Kami seperti berjalan menembus dinding putih yang dingin. Waktu melar, memanjang seperti karet yang ditarik paksa. Tiga puluh menit yang direncanakan melebur menjadi dua jam perjuangan yang menguras adrenalin.

Ada rasa lelah yang mulai merayap di punggung, ada dingin yang menusuk hingga ke tulang. Namun, di setiap putaran roda yang berat itu, kami tahu ada harapan yang sedang kami bawa. Kami tidak boleh berbalik arah. Sebab di ujung jalan rusak ini, ada cerita yang belum selesai ditulis.

Bagian II: Tentang Menunggu dan Ketulusan yang Mengalahkan Waktu

Pukul dua belas siang. Matahari seharusnya sudah tegak di atas kepala, memberikan teriknya yang garang. Tapi hari ini, langit masih saja murung.

Kami tiba di Kampung Cinangsi dengan napas tersengal dan tubuh yang basah. Dan di sanalah, rasa bersalah itu menghantam dada kami dengan telak. Mereka—warga kampung, anak-anak, para orang tua—sudah berkumpul. Informasi yang kami dapatkan membuat hati kami mencelos; mereka telah menunggu sejak pukul sembilan pagi. Tiga jam. Bayangkan, tiga jam mereka duduk dalam ketidakpastian, menanti tamu yang tak kunjung menampakkan batang hidungnya karena kalah oleh jalanan dan hujan.

Jika ini terjadi di kota besar, mungkin tamu-tamu itu sudah bubar, pulang dengan sumpah serapah tentang waktu yang terbuang. Tapi di sini, di Cinangsi, waktu seolah memiliki definisinya sendiri. Waktu adalah tentang kesetiaan menunggu.

Saat kami turun dari kendaraan, yang menyambut kami bukanlah wajah-wajah masam penuh kekecewaan. Bukan keluhan tentang keterlambatan. Yang kami temukan justru senyum-senyum hangat yang merekah tulus. Antusiasme mereka begitu menyala, seolah membakar dinginnya udara sisa hujan yang masih menggigit kulit. Anak-anak berlarian kecil, mata mereka berbinar seperti menemukan harta karun. Orang-orang tua menyalami kami dengan genggaman yang erat, seakan mengatakan, "Terima kasih sudah datang, meski terlambat."

Seketika, rasa lelah akibat berjibaku dengan jalanan licin selama dua jam tadi menguap. Pengorbanan menembus kabut dan lubang jalanan terbayar lunas. Ada perasaan hangat yang menjalar di dada, sebuah perasaan yang tidak bisa dibeli dengan materi apa pun: perasaan dihargai. Ternyata, kebahagiaan itu sederhana. Sesederhana melihat orang lain tersenyum karena kehadiranmu.

Bagian III: Berteduh dalam Ilmu di Tengah Guyuran Hujan

Waktu terus bergulir, sore mulai mengintip dari balik awan yang masih enggan beranjak. Road Show GKM (Gerakan Kampung Membaca) ini harus segera dimulai. Hujan masih menyisakan rintiknya, membasahi tanah pekarangan, membuat rencana kegiatan luar ruangan (outdoor) menjadi mustahil. Tapi semangat tidak boleh luntur hanya karena atap langit sedang bocor. Kami memindahkan segalanya ke dalam ruangan (indoor).

Pukul satu siang, tepat setelah kami dan warga menunaikan kewajiban Shalat Dzuhur—bersujud menyukuri napas yang masih berhembus—acara pun dibuka. Ruangan itu mungkin sederhana, tapi energinya luar biasa.

Sosok yang pertama kali berdiri di hadapan kami adalah Ust. Syarif Hidayatullah. Beliau bukan sekadar warga biasa; beliau adalah pelita di kampung ini. Seorang tokoh ulama, sekaligus dewan guru yang dihormati. Kata-katanya santun, menyejukkan seperti embun pagi.

"Terima kasih yang sebesar-besarnya atas kedatangan komunitas Ngejah yang bersedia hadir ke daerah kami," ucapnya.

Suaranya bergetar halus, menyiratkan rasa syukur yang dalam. Di desa terpencil seperti ini, kedatangan tamu yang membawa niat baik adalah sebuah perayaan.

Kemudian, Roni Nuroni, perwakilan dari Tim Road Show kami, maju ke depan. Ia merasa perlu meluruskan niat, menjelaskan mengapa kami rela bersusah payah datang ke sini. Bukan untuk mencari pujian, bukan untuk sekadar jalan-jalan. Roni berbicara dengan lugas namun penuh empati. Ia menyadari ada jurang yang sedang menganga di generasi ini.

"Maksud dari kedatangan komunitas Ngejah ini untuk memotivasi membaca, khususnya bagi anak-anak," ujar Roni, matanya menyapu wajah-wajah polos di hadapannya. "Karena saat ini, kita tahu, anak-anak cenderung lebih suka membaca SMS, Facebook, BBM, Line, dan sebagainya dibanding dengan membaca buku pelajaran atau buku yang bersifat edukasi. Padahal, dengan membaca kita bisa mengenal dunia."

Kata-kata Roni menohok realitas. Di tengah keterbatasan akses di desa ini, gelombang teknologi tetap merembes masuk, kadang membawa serta kemalasan untuk membuka lembar-lembar ilmu. Kami hadir di sini untuk mengingatkan kembali bahwa aroma kertas buku jauh lebih menjanjikan masa depan daripada layar kaca yang melenakan.

Bagian IV: Tawa Anak-Anak adalah Obat Paling Mujarab

Acara bergulir mengalir seperti air sungai yang jernih. Kami tidak ingin sekadar berceramah. Anak-anak tidak butuh teori yang rumit; mereka butuh kegembiraan, mereka butuh imajinasi.

Sesi pemutaran film pun dimulai. Kang Ruli, sang operator kebahagiaan visual hari itu, memutarkan film berjudul "Sang Pemberani". Ruangan seketika hening. Mata-mata kecil itu terpaku pada layar. Bagi mereka yang hidup jauh dari bioskop kota, tontonan ini adalah kemewahan. Mereka menyerap setiap adegan, setiap dialog. Menurut mereka, film ini berbeda. Sangat mendidik. Tidak seperti sinetron atau tontonan harian yang seringkali hanya menjual mimpi kosong. Di film ini, mereka belajar tentang keberanian, tentang mimpi yang harus diperjuangkan.

Ketika film usai, suasana kembali dihangatkan oleh suara Kang Milah. Ah, Kang Milah, sang pakar dongeng komunitas Ngejah. Ia tahu betul bagaimana menyihir suasana. Dengan intonasi suara yang berubah-ubah, mimik wajah yang ekspresif, ia membawa anak-anak itu terbang ke negeri antah berantah.

Anak-anak tertawa, bertepuk tangan, kadang melongo takjub. Melihat respons mereka yang begitu hidup, Kang Milah semakin bersemangat. Energinya seolah tak habis-habis. Dongeng bukan sekadar cerita bohong sebelum tidur; dongeng adalah cara menanamkan nilai-nilai kebaikan tanpa harus menggurui.

Agar tubuh-tubuh kecil itu tidak kaku karena terlalu lama duduk, Kang Iwan Ridwan, sang koordinator GKM, mengambil alih komando. "Ayo kita main!" serunya. Permainan dimulai. Sederhana, tapi penuh makna. Anak-anak merasa terhibur. Beberapa permainan mungkin hal baru bagi mereka, tapi luar biasanya, daya adaptasi mereka sangat cepat. Mereka belajar aturan main dalam hitungan detik, lalu tertawa lepas saat memainkannya.

Puncak dari segala keriaan itu adalah kembali ke tujuan awal: membaca. Mohamad Irfan, relawan GKM yang paling muda, dengan penuh kesabaran memimpin sesi membaca bersama. Di sudut-sudut ruangan, buku-buku dibuka. Jari-jari kecil menelusuri barisan huruf. Ada bunyi gumam mengeja, ada suara lantang membaca cerita. Setengah jam yang magis. Di mana dunia seolah berhenti berputar, memberi waktu bagi otak-otak muda ini untuk menyerap pengetahuan.

Acara ditutup dengan pemberian reward—hadiah kecil untuk apresiasi besar—dan sesi foto bersama di halaman depan. Jepretan kamera itu akan menjadi saksi bisu, bahwa di tengah hujan dan jalan rusak, pernah ada kebahagiaan yang membuncah di Kampung Cinangsi.

Bagian V: Malam yang Jatuh dan Keputusan untuk Menetap

Sore mulai menua. Cahaya matahari semakin redup, digantikan oleh kelabu senja yang basah. Suara katak di sawah mulai bersahutan, sebuah orkestra alam yang menandakan malam akan segera tiba. Jam tangan menunjukkan pukul 16.00 WIB.

Hujan belum juga reda. Langit sepertinya masih ingin menangis lebih lama. Kami menatap jalan pulang yang tadi kami lalui—jalan terjal, licin, dan gelap. Memaksakan pulang dalam kondisi seperti ini sama saja dengan menantang bahaya yang tak perlu. Perjalanan masih jauh, tubuh sudah meminta haknya untuk istirahat.

Maka, keputusan pun diambil. Kami akan menginap. Kami akan melebur satu malam lagi dengan napas kehidupan di kampung ini.

Kang Imron, seorang pemuda setempat yang hatinya seluas samudra, menawarkan rumahnya. Ia bukan sekadar tuan rumah; ia adalah relawan sejati yang bersedia menjadi pengelola pojok baca di Kampung Cinangsi ini. Di rumahnya yang sederhana namun hangat, kami berteduh dari dinginnya malam.

Di sela-sela waktu kosong, ditemani mungkin segelas kopi atau teh hangat, kami mengobrol santai dengan Kang Imron. Percakapan ini bukan percakapan basa-basi. Ini adalah percakapan tentang realitas hidup. Tentang bagaimana rasanya tinggal di desa yang seolah dilupakan oleh peta pembangunan.

"Kampung Cinangsi ini," kata Kang Imron, suaranya pelan tapi tegas, "merupakan desa tertinggal dalam segi ekonomi."

Ia menarik napas panjang, seolah berat mengakui fakta itu. "Ada dua faktor yang sangat mempengaruhinya. Transportasi dan komunikasi. Karena dua faktor ini yang berperan penting dalam memajukan segi ekonomi di sini."

Saya terdiam mendengar penjelasannya. Kang Imron benar. Sangat benar. Jalur transportasi di daerah ini bukan sekadar "kurang baik", tapi sangat menghambat. Bagaimana ekonomi bisa berputar cepat jika jalanannya berlubang dan membahayakan? Bagaimana hasil bumi bisa dijual dengan harga layak jika ongkos angkutnya mencekik karena medan yang sulit?

Dan komunikasi... ah, di zaman di mana orang kota bisa mengirim pesan ke ujung dunia dalam satu detik, di sini, sinyal adalah barang langka. Jaringan komunikasi sama sekali tidak ada. Ponsel pintar kami menjadi benda mati yang tak berguna selain untuk melihat jam atau memotret. Saya tidak bisa menghubungi siapa pun di luar sana. Saya terisolasi. Namun, dalam isolasi itu, saya justru merasa lebih "hadir" di sini.

Bagian VI: Refleksi di Ujung Hari

Malam itu, di rumah Kang Imron, saya merenung panjang. Dari Kampung Cinangsi ini, saya mendapatkan pelajaran hidup yang jauh lebih berharga daripada apa yang pernah saya pelajari di bangku sekolah formal.

Saya melihat wajah asli bangsa ini. Di kampung ini, sifat gotong royong—ciri khas orang Sunda dan Indonesia yang mulai luntur di kota-kota besar—masih terjaga dengan sangat murni. Tak mengenal usia. Orang tua, anak muda, semuanya ringan tangan untuk saling membantu. Mereka tidak merasa gengsi. Mereka tidak bertanya "aku dapat apa?" sebelum bekerja. Mereka hanya tahu bahwa beban akan terasa ringan jika dipikul bersama.

Namun, di balik keindahan sosial itu, ada luka yang menganga yang membuat hati saya perih. Saya prihatin melihat infrastruktur mereka. Pendidikan, ekonomi, komunikasi—tiga pilar penting kehidupan modern—seolah kurang mendapatkan pelukan dari pemerintah setempat. Mereka seperti anak tiri di rumah sendiri. Jalanan yang rusak adalah bukti nyata ketidakpedulian itu. Ketiadaan sinyal adalah bukti kesenjangan yang nyata.

Saking asyiknya bertukar pikiran dengan Kang Imron, menyelami keluh kesah dan harapan warga Cinangsi, saya sampai lupa waktu. Malam semakin larut, suara jangkrik dan katak semakin nyaring, seolah meninabobokan kampung yang lelah ini.

Saya sadar, saya harus istirahat. Tubuh ini perlu diisi ulang energinya. Besok, matahari (semoga) akan terbit lagi. Besok, perjalanan Road Show GKM ini harus dilanjutkan. Masih ada tempat lain yang harus dikunjungi, masih ada semangat baca yang harus ditularkan, dan masih ada jalan rusak yang mungkin harus kami tempuh lagi.

Saya memejamkan mata dengan satu keyakinan: bahwa lelah ini adalah lelah yang baik. Bahwa setiap lubang di jalan tadi, setiap tetes hujan yang membasahi baju, adalah bagian dari cerita yang akan saya kenang selamanya.

Ok guys, untuk cerita hari kedua sekian dulu. Kita sambung lagi besok di hari ketiga. Di mana ada pertemuan, di situ ada perpisahan, tapi kenangan dan jejak kebaikan akan selamanya tertinggal.

Post a Comment

Previous Post Next Post