Bagian I: Tentang Pikiran yang Tak Bisa Dipenjara
Barangkali,
kita terlalu sering terjebak pada definisi-definisi kaku yang dibuat oleh
manusia sendiri. Kita mengotak-ngotakkan kemampuan, memberi label pada siapa
yang "bisa" dan siapa yang "tidak", siapa yang
"normal" dan siapa yang "kurang". Padahal, jika kita mau
duduk sejenak, merenung di antara jeda hujan dan aroma tanah basah, kita akan
menyadari bahwa belajar bukanlah hak eksklusif mereka yang berlari dengan kaki
sempurna atau mereka yang mampu menghafal rumus matematika dalam sekejap mata.
Belajar
adalah napas. Ia adalah kebutuhan purba bagi setiap jiwa yang terlahir ke
dunia, tak peduli apakah raga yang membungkus jiwa itu dianggap sempurna atau
memiliki celah di mata dunia.
Saya
teringat sebuah kalimat yang pernah diucapkan oleh Mahatma Gandhi, seorang jiwa
besar yang memahami arti kebebasan yang sesungguhnya. Ia pernah berkata dengan
lantang, seolah menantang ketidakadilan dunia: "Kamu dapat merantai
tangan dan kakiku, kamu dapat menyiksaku, bahkan kamu dapat menghancurkan tubuh
ini, tetapi kamu tidak akan dapat memenjarakan pikiranku."
Kalimat itu bergetar di kepala saya, meruntuhkan tembok-tembok keputusasaan. Kutipan itu adalah sebuah proklamasi bahwa fisik hanyalah wadah. Kamu bisa saja terkurung dalam raga yang lemah, kamu bisa saja terbatas oleh gerak motorik yang tak seirama, atau bahkan oleh kapasitas intelektual yang berbeda standar dengan kebanyakan orang. Namun, pikiran—atau lebih dalam lagi, keinginan untuk tahu—adalah burung yang memiliki sayap-sayap cahaya. Ia tak bisa dikurung. Ia akan selalu mencari celah untuk terbang, menembus awan, mencari mataharinya sendiri.
Dalam
konsep Long Life Education—pendidikan sepanjang hayat—pintu gerbang ilmu
tidak pernah benar-benar tertutup, kecuali kita sendiri yang menutupnya. Selama
jantung masih berdetak, selama napas masih berhembus menyentuh paru-paru,
selama itu pula peluang terbuka lebar. Tidak ada syarat "harus
normal" untuk mulai belajar. Yang ada hanyalah syarat "harus
mau".
Dan
berbicara tentang kemauan, tentang semangat yang menyala di tengah
keterbatasan, saya menemukan api itu di sebuah kampung yang jauh dari
hiruk-pikuk kota. Saya menemukannya pada sepasang mata milik seorang anak
laki-laki bernama Asep.
Bagian II: Perjalanan Menuju Ciarakoneng
Hari itu,
takdir membawa langkah kaki kami—para relawan Gerakan Kampung Membaca (GKM)
Komunitas Ngejah—menuju sebuah titik koordinat di selatan Garut. Tujuan kami
adalah Kampung Ciarakoneng, Desa Pancasura, Kecamatan Singajaya. Sebuah nama
tempat yang mungkin asing bagi mereka yang terbiasa hidup di bawah gemerlap
lampu neon kota besar, namun bagi kami, tempat-tempat seperti inilah yang
menyimpan denyut kehidupan yang paling jujur.
Perjalanan
menuju ke sana adalah sebuah romantisme tersendiri. Melewati jalanan yang
mungkin tak semulus jalan protokol, menembus udara desa yang masih murni, kami
membawa satu misi: GKM episode #13. Episode ke-13, sebuah angka yang sering
dianggap sial oleh sebagian orang, tapi bagi kami, ini adalah angka
keberuntungan. Karena di episode inilah, semesta mempertemukan saya dengan
pelajaran hidup yang tak tertulis di buku tebal mana pun.
Kampung
Ciarakoneng menyambut kami dengan kesederhanaannya. Rumah-rumah panggung,
pepohonan yang menari ditiup angin, dan wajah-wajah warga yang menyiratkan
ketulusan. Di sini, waktu seolah berjalan lebih lambat. Tidak ada yang
terburu-buru mengejar kereta atau memaki kemacetan. Yang ada hanyalah ritme
alam dan kehangatan persaudaraan.
Ketika
kami tiba dan mulai menggelar lapak baca, anak-anak mulai berkerumun. Mereka
datang seperti lebah yang mencium aroma bunga mekar. Riuh rendah suara tawa
mereka adalah musik terbaik yang bisa didengar telinga. Di antara kerumunan
bocah-bocah yang berlarian dengan energi yang meluap-luap itu, mata saya
tertumbuk pada satu sosok.
Dia ada di
sana. Berbaur, namun terasa berbeda. Namanya Asep.
Bagian III: Asep dan Semesta Kecilnya
Usianya
sepuluh tahun. Di usia segitu, kebanyakan anak laki-laki sedang
gencar-gencarnya bermain bola di tanah lapang, atau sibuk memamerkan mainan
baru pada teman sebayanya. Tapi Asep berbeda.
Secara
fisik, ia hadir di sana, berdiri sama tegak dengan teman-temannya. Namun, ada
sesuatu yang membedakannya. Asep adalah anak yang istimewa. Dunia medis dan
psikologi menyebutnya sebagai penyandang tunagrahita.
Bagi yang
belum paham, referensi yang pernah saya baca menjelaskan bahwa tunagrahita
adalah kondisi di mana seseorang memiliki kapasitas intelektual (IQ) di bawah
rata-rata (biasanya di bawah 70), disertai dengan ketidakmampuan dalam
penyesuaian diri terhadap lingkungan, yang seringkali memunculkan masalah
sosial.
Membaca
definisi itu di atas kertas terasa dingin dan klinis. Namun, melihat Asep
secara langsung, definisi itu luluh menjadi sebuah rasa empati yang mendalam.
Bayangkan
menjadi Asep. Hidup di sebuah kampung yang jauh dari akses layanan terapi
modern. Di saat anak-anak lain seusianya mengenakan seragam merah-putih,
berangkat sekolah dengan tas punggung berisi buku-buku pelajaran, Asep tidak.
Ia tidak bersekolah formal. Sistem pendidikan kita yang kaku seringkali belum
siap, atau belum mampu menjangkau mutiara-mutiara yang tersembunyi di pelosok
seperti Asep. Keterbatasan ekonomi, jarak, dan minimnya Sekolah Luar Biasa
(SLB) di daerah pelosok membuat hak pendidikannya terabaikan.
Asep hanya
mengenyam pendidikan non-formal. Ia belajar mengaji di sekolah agama kampung.
Hanya itu. Selebihnya, universitas kehidupannya adalah alam Ciarakoneng dan
interaksi sehari-hari dengan tetangganya.
Tapi,
apakah keterbatasan intelektual itu membuat jiwanya mati? Apakah ketiadaan
seragam sekolah membuat semangat belajarnya padam?
Jawabannya
adalah tidak. Sama sekali tidak.
Bagian IV: Tawa yang Membelah Langit
Acara GKM
#13 pun dimulai. Kami, para relawan, berusaha memberikan yang terbaik. Membawa
buku, mengadakan permainan, dan tentu saja, sesi mendongeng.
Saya
mengamati Asep diam-diam. Saya ingin tahu, bagaimana ia merespons kehadiran
kami. Orang mungkin berpikir, anak dengan kebutuhan khusus akan menarik diri,
bersembunyi di balik punggung ibunya, atau merasa terasing di tengah keramaian.
Tapi Asep mematahkan semua prasangka itu.
Ia
berbaur. Ia masuk ke dalam lingkaran. Ia mengikuti setiap tahapan kegiatan
dengan antusiasme yang membuat hati saya bergetar. Tidak ada rasa minder di
wajahnya. Yang ada hanyalah rasa ingin tahu yang murni, seolah ia sedang
menyerap energi positif yang kami bawa.
Puncaknya
adalah saat sesi mendongeng.
Saat itu,
Kang Saeful Millah, salah satu relawan kami yang piawai merangkai kata, mulai
bercerita. Kang Saeful mendongeng dengan ekspresif, suaranya naik turun,
tangannya bergerak lincah memperagakan adegan demi adegan. Anak-anak lain duduk
terpaku, sesekali tertawa, sesekali tegang.
Dan Asep?
Momen itu
terekam jelas dalam ingatan saya, seperti sebuah adegan slow motion
dalam film yang menyentuh hati.
Saat
cerita sampai pada bagian yang lucu, tawa meledak di seluruh ruangan. Anak-anak
tertawa terpingkal-pingkal. Dan di sana, Asep ikut tertawa.
Bukan
sekadar tersenyum simpul. Ia tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya lepas,
bebas, tanpa beban. Ia mendongakkan kepalanya ke atas, menatap langit-langit,
atau mungkin menatap sesuatu yang jauh lebih tinggi—menatap semesta yang hanya
bisa dilihat oleh matanya sendiri.
Saya
tertegun melihat pemandangan itu.
Apakah ia mengerti alur ceritanya? batin saya bertanya. Apakah
ia paham lelucon yang disampaikan Kang Saeful? Ataukah ia hanya tertawa karena
melihat teman-temannya tertawa? Apakah ini hanya respons mimikri, sebuah
peniruan sosial agar ia merasa menjadi bagian dari kelompok?
Pertanyaan-pertanyaan
logis itu berjejal di kepala saya. Sebagai manusia yang mengaku
"normal", otak saya selalu menuntut penjelasan rasional. Saya mencoba
menganalisis tawa Asep dengan teori-teori psikologi.
Namun,
semakin lama saya menatapnya tertawa sambil menengadah ke langit, semakin saya
sadar bahwa pertanyaan-pertanyaan saya itu tidak penting.
Sama
sekali tidak penting.
Bagian V: Refleksi di Ujung Senja
Tidak ada
jawaban pasti yang saya temukan sampai tulisan ini saya buat. Saya tidak bisa
masuk ke dalam kepala Asep untuk tahu apa yang sedang ia pikirkan.
Tapi satu
hal yang pasti, yang saya rasakan dengan segenap hati: Semangat belajar itu
ada.
Tawa Asep
adalah bukti bahwa ia sedang belajar. Ia belajar merespons. Ia belajar
merasakan emosi kolektif. Ia belajar bahwa hari ini, ada kegembiraan yang
datang ke kampungnya. Ia sedang mengaktifkan sel-sel otaknya untuk terhubung
dengan dunia di sekitarnya.
Mungkin,
cara Asep memahami cerita dongeng itu berbeda dengan cara anak-anak lain
memahaminya. Jika anak lain memahami plot dan karakternya, mungkin Asep
memahami rasa-nya. Mungkin Asep menangkap gelombang kebahagiaan yang
dipancarkan oleh Kang Saeful, dan itu sudah cukup baginya untuk tertawa.
Bukankah
itu juga proses berpikir? Bukankah itu juga esensi dari pendidikan? Pendidikan
bukan hanya tentang mengisi kepala dengan fakta, tapi juga tentang mengasah
hati untuk bisa merasakan. Dan Asep, dengan segala keterbatasannya, telah lulus
dalam pelajaran "merasakan kebahagiaan".
Melihat
Asep tertawa sambil menatap langit, saya merasa kecil. Mahatma Gandhi benar.
Tubuh Asep mungkin memiliki batasan. Kapasitas IQ-nya mungkin terukur angka
yang rendah oleh standar manusia. Tapi pikirannya? Perasaannya? Itu bebas. Tak
ada yang bisa memenjarakan kegembiraannya saat itu.
Ia
mengajarkan saya tentang keikhlasan. Tentang bagaimana menikmati momen tanpa
harus memusingkan detail yang rumit. Kita, orang-orang "normal",
seringkali terlalu sibuk menganalisis hidup sampai lupa caranya hidup. Kita
terlalu sibuk memikirkan masa depan sampai lupa tertawa di hari ini. Asep,
dengan kesederhanaan pikirannya, justru mampu menikmati "kini" dengan
seutuhnya.
Bagian VI: Sebuah Harapan yang Dititipkan pada Angin
Acara GKM
#13 di Ciarakoneng pun usai. Kami harus pulang, kembali ke rutinitas kami
masing-masing. Tapi bayangan tawa Asep tidak bisa hilang dari kepala saya.
Ada rasa
haru yang menyelusup, bercampur dengan sedikit rasa sesak di dada. Rasa sesak
karena menyadari realitas yang harus dihadapi Asep. Semangat belajarnya begitu
besar, antusiasmenya begitu menyala, namun fasilitas untuk menampungnya begitu
minim.
Alangkah
bahagianya saya, dan mungkin kita semua, jika di luar sana ada pihak-pihak yang
tergerak hatinya. Pihak-pihak yang memiliki kuasa, memiliki sumber daya, untuk
membantu Asep mendapatkan layanan pendidikan khusus yang layak.
Asep
berhak mendapatkan guru yang paham cara mengajarinya. Ia berhak mendapatkan
metode belajar yang disesuaikan dengan kapasitasnya. Ia berhak untuk berkembang
maksimal sesuai dengan potensinya, sekecil apa pun potensi itu. Karena di dalam
konstitusi, dan terlebih lagi di mata Tuhan, hak Asep untuk belajar setara
dengan hak anak-anak jenius di kota besar.
Pendidikan
adalah cahaya. Dan cahaya tidak pernah memilih kepada siapa ia akan bersinar.
Ia menerangi istana, ia juga menerangi gubuk reot. Ia menerangi mereka yang
sempurna, ia juga menerangi mereka yang istimewa seperti Asep.
Melalui
tulisan ini, saya menitipkan pesan pada semesta. Semoga semangat Asep tidak
padam dimakan usia dan keterbatasan. Semoga tawa renyahnya yang menatap langit
itu menjadi doa yang mengetuk pintu hati banyak orang.
Teruslah
tertawa, Asep. Teruslah belajar dengan caramu sendiri. Biarkan dunia melihat,
bahwa meski dengan langkah yang berbeda, kamu tetap berjalan maju. Kamu telah
mengajarkan kami, bahwa keterbatasan hanyalah tembok fatamorgana yang bisa
diruntuhkan oleh ketulusan hati dan semangat yang tak kenal menyerah.
Di Ciarakoneng, di bawah langit yang sama, saya belajar bahwa pikiran manusia adalah samudra luas yang tak bertepi, dan tak ada satu rantai pun di dunia ini yang mampu mengikatnya.