Mengajar, Mengabdi, dan Pulang ke Kampung Halaman

Mengajar, Mengabdi, dan Pulang ke Kampung Halaman

Saya mengajar di SMK. Setiap pagi saya berdiri di hadapan anak-anak muda yang usianya masih belia, tetapi sudah dibebani harapan besar oleh zaman. Mereka diminta cepat matang, cepat siap kerja, cepat mengerti dunia yang bahkan orang dewasa pun sering tak memahaminya. Di wajah mereka saya melihat kegamangan, juga tekad. Di situlah saya tahu, mengajar bukan sekadar menyampaikan pelajaran, melainkan ikut memikul beban sejarah kecil yang sedang tumbuh dalam diri mereka.

Namun hidup saya tidak selesai di ruang kelas.

Ketika pulang ke kampung halaman, saya menjalani peran lain: mengelola PKBM dan sebuah taman baca. Tempat itu tidak dibangun dengan dana besar atau rencana megah. Ia tumbuh dari kebutuhan. Dari kenyataan bahwa masih banyak orang yang tercecer oleh sistem, tertinggal oleh keadaan, dan dilupakan oleh waktu.

Bangunannya sederhana. Rak bukunya tak selalu penuh. Kadang listrik mati. Kadang hujan bocor. Tapi orang-orang tetap datang. Ada yang sudah dewasa, ada yang lanjut usia, ada pula anak-anak yang ingin sekadar membaca tanpa harus ditanya ijazahnya.

Di situlah saya mengerti, pendidikan yang sejati tidak lahir dari gedung tinggi atau kurikulum rumit. Ia lahir dari keberanian untuk hadir di tengah orang-orang kecil—mereka yang pernah gagal, pernah berhenti sekolah, atau tak pernah diberi kesempatan kedua.

PKBM dan taman baca itu menjadi semacam persinggahan. Tidak semua yang datang membawa keyakinan. Sebagian datang dengan ragu, dengan perasaan rendah diri. Tapi dari keraguan itulah kesadaran tumbuh. Manusia belajar bukan karena ia sudah siap, melainkan karena ia berani memulai.

Di rumah, saya adalah ayah dari dua anak. Anak perempuan saya enam tahun, sedang rajin bertanya. Anak laki-laki saya dua tahun, sedang belajar berjalan dengan jatuh yang berulang. Dari mereka saya belajar sesuatu yang tak pernah saya temukan di buku pedagogik: bahwa belajar adalah proses yang alamiah, tidak tergesa, dan penuh kesalahan.

Istri saya, yang hidup bersama saya dalam kesederhanaan, sering mengingatkan bahwa hidup bukan tentang seberapa jauh kita pergi, tetapi apa yang tetap kita rawat. Kampung halaman adalah salah satu yang kami rawat—dengan tenaga yang terbatas, dengan keyakinan yang kadang goyah, tetapi dengan niat yang terus dijaga.

Mengelola PKBM dan taman baca tidak memberi gelar, tidak mendatangkan sorotan. Tidak ada panggung. Tidak ada tepuk tangan. Yang ada hanya kerja yang berulang dan kesunyian. Tetapi justru di sanalah saya belajar tentang makna pengabdian: bekerja tanpa harus diingat.

Saya percaya, kebaikan tidak selalu dicatat oleh manusia, tetapi selalu meninggalkan jejak. Membuka buku untuk satu anak, menemani orang dewasa mengeja huruf demi huruf, menyediakan ruang aman untuk belajar—semua itu mungkin kecil, tetapi tidak sia-sia.

Kini usia saya hampir empat puluh. Saya tidak lagi ingin menjadi luar biasa. Saya hanya ingin berguna. Jika ilmu bisa dibagikan, jika cahaya kecil bisa dinyalakan di sudut kampung, itu sudah cukup.

Mengajar di SMK, mengelola PKBM, dan merawat taman baca di kampung halaman bukanlah pekerjaan yang terpisah. Semuanya adalah satu rangkaian perjalanan: perjalanan seorang manusia biasa yang memilih untuk tidak pergi terlalu jauh dari akarnya. Sebab pulang, pada akhirnya, bukan soal jarak—melainkan soal tanggung jawab.

Post a Comment

Previous Post Next Post