Segelas kopi terhidang di atas meja kayu yang sederhana. Uapnya perlahan naik, seolah membawa cerita tentang waktu, kesabaran, dan ketekunan. Di Taman Baca AIUEO Komunitas Ngejah, segelas kopi bukan sekadar minuman pengusir kantuk, melainkan teman setia bagi pikiran yang terus bekerja dan hati yang tak lelah berharap.
Hari ini, suasana terasa tenang. Tak ada hiruk-pikuk liburan yang berlebihan, tak ada tuntutan untuk berlari cepat. Yang ada hanyalah jeda—jeda untuk membaca, menulis, dan merenung. Di tempat sederhana ini, literasi tumbuh bukan karena paksaan, melainkan karena kesadaran. Kesadaran bahwa perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil yang dilakukan berulang-ulang.
Segelas kopi menemani proses itu. Saat huruf demi huruf dirangkai di layar laptop, saat ide kadang datang lalu menghilang, kopi tetap setia di samping, dingin perlahan namun tak pernah kehilangan maknanya. Seperti perjuangan yang dijalani: mungkin pelan, mungkin tak selalu terlihat, tetapi terus bergerak.
Taman Baca AIUEO adalah ruang belajar yang hidup. Rak-rak buku, hasil karya, dan sudut baca menjadi saksi bahwa mimpi tidak selalu lahir di tempat mewah. Justru di kesederhanaan inilah mimpi dirawat dengan penuh kesungguhan. Anak-anak, relawan, dan siapa pun yang datang membawa satu hal yang sama: keinginan untuk tumbuh.
Ketika di luar sana banyak yang memilih bersantai, di sini ada yang memilih bertahan. Bertahan untuk membaca satu halaman lagi, menulis satu paragraf lagi, dan percaya satu hari lagi. Segelas kopi hari ini menjadi saksi bisu bahwa konsistensi kecil jauh lebih berharga daripada semangat besar yang cepat padam.
Pada akhirnya, segelas kopi ini mengajarkan satu hal sederhana: tidak apa-apa berjalan pelan, asalkan tidak berhenti. Karena dari meja kayu, buku-buku sederhana, dan secangkir kopi hangat, harapan terus dijaga—dan masa depan perlahan dibentuk.