Kesombongan yang Meruntuhkan, Adab yang Menyelamatkan

Alt Kesombongan yang Meruntuhkan, Adab yang Menyelamatkan
Kesombongan yang Meruntuhkan, Adab yang Menyelamatkan

Manusia sering terpedaya oleh bayang-bayang dirinya sendiri. Ketika sedikit kelebihan singgah di pundaknya—entah harta, kedudukan, ilmu, atau keturunan—ia lupa bahwa semua itu hanyalah titipan. Dari sanalah kesombongan tumbuh, angkuh menjalar, dan perilaku buruk perlahan menjadi kebiasaan. Padahal, kesombongan itu ibarat api kecil yang kelak membakar ketenangan jiwa di kemudian hari.

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”
(QS. An-Nisa: 36)

Kesombongan tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu diiringi oleh ucapan yang menyakiti, sikap yang meremehkan, dan hati yang enggan menunduk. Orang yang angkuh sulit menerima kebenaran, sebab ia merasa dirinya telah cukup. Inilah penyakit batin yang paling halus, namun paling berbahaya.

“Kesombongan itu tanda kebodohan, sebab orang yang berilmu mengetahui betapa kecilnya dirinya di hadapan Tuhan.”
(Buya Hamka, Lembaga Budi)

Penyesalan biasanya datang terlambat. Ia hadir ketika usia menua, ketika anak-anak telah jauh, ketika sahabat satu per satu pergi, dan ketika harta tidak lagi mampu membeli ketenteraman. Saat itu barulah disadari, bahwa yang hilang bukan kekayaan, melainkan adab dan kasih sayang yang dahulu diabaikan.

“Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahanam, kamu kekal di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong.”
(QS. Az-Zumar: 72)

Di sinilah pentingnya etika dalam keluarga. Keluarga adalah madrasah pertama bagi manusia. Di sanalah seseorang belajar berbicara dengan lembut, menahan amarah, menghormati yang tua, dan menyayangi yang muda. Etika dalam keluarga bukan sekadar sopan santun, melainkan latihan jiwa agar tidak dikuasai oleh ego.

“Budi pekerti yang baik tidak lahir dari kemegahan hidup, tetapi dari jiwa yang terlatih menahan diri.”
(Buya Hamka, Pribadi Hebat)

Rumah yang dipenuhi adab akan melahirkan ketenangan. Suami yang rendah hati kepada istri, istri yang santun kepada suami, orang tua yang penuh kasih kepada anak, serta anak yang hormat kepada orang tua—itulah fondasi kebahagiaan yang tidak mudah runtuh oleh badai kehidupan.

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6)

Orang yang menjaga etika dalam keluarganya akan lebih mudah menjaga akhlak di tengah masyarakat. Ia terbiasa mengalah, bukan karena lemah, tetapi karena kuat menahan nafsu. Inilah manusia yang selamat, bukan karena hidupnya tanpa masalah, melainkan karena jiwanya berpijak pada nilai.

“Bahagia itu bukan karena bertambah harta, tetapi karena berkurang keangkuhan.”
(Buya Hamka, Tasauf Modern)

Maka, jika engkau ingin selamat dan bahagia, tundukkanlah kesombongan sebelum ia menundukkanmu. Jinakkanlah angkuh sebelum ia memisahkanmu dari orang-orang yang mencintaimu. Dan peliharalah etika dalam keluargamu, karena dari sanalah lahir ketenteraman yang tidak dapat dibeli oleh apa pun.

Post a Comment

Previous Post Next Post