Mengapa Novel Sastra Modern Dianggap Membosankan? Membedah Kritik Julian Gough dan Rahasia Menulis dengan Jiwa
Pernahkah Kamu membeli sebuah novel pemenang penghargaan, menyeduh kopi hangat, lalu duduk siap untuk terhanyut dalam ceritanya—hanya untuk menyadari setelah tiga bab bahwa Kamu merasa sangat bosan? Kamu merasa bersalah, seolah-olah Kamu tidak cukup cerdas untuk memahami "karya agung" tersebut. Kamu mulai bertanya-tanya, apakah sastra modern memang harus terasa seperti tugas sekolah yang berat dan penuh kecemasan?
Masalahnya, banyak novel sastra saat ini terjebak dalam zona yang terlalu "aman", sangat serius, dan jujur saja, melelahkan untuk dibaca. Kita merindukan narasi yang punya energi, tapi yang kita dapatkan sering kali hanyalah nostalgia yang dipoles ulang atau kecemasan kelas menengah yang itu-itu saja. Jika situasi ini terus berlanjut, kita berisiko kehilangan koneksi emosional yang sebenarnya antara penulis dan pembaca.
Namun, jangan biarkan tumpukan buku yang membosankan itu membuatmu berhenti membaca atau menulis. Kabar baiknya, kualitas sebuah tulisan tidak ditentukan oleh apakah ia komedi atau tragedi, melainkan oleh kejujuran sang penulis. Dalam artikel ini, saya akan mengajak Anda membedah kritik pedas Julian Gough terhadap sastra modern dan menemukan bagaimana cara menulis novel menarik yang benar-benar berjiwa, tanpa harus terjebak dalam aturan "sastra serius" yang kaku.
Kritik Julian Gough: Benarkah Sastra Kurang Lucu?
Beberapa waktu lalu, Julian Gough menulis sebuah esai provokatif di Prospect yang mengguncang dunia literasi. Ia bertanya dengan nada frustrasi: "Apa yang salah dengan novel sastra modern? Mengapa ia begitu layak tapi kusam? Mengapa begitu membosankan?" Gough berargumen bahwa sastra modern kehilangan daya pikatnya karena terlalu takut untuk menjadi lucu atau menggunakan elemen komedi.
Ia bahkan menyayangkan mengapa novel seperti Money karya Martin Amis yang penuh energi komedi bisa kalah dari karya yang lebih "tradisional" di ajang penghargaan bergengsi. Meskipun saya setuju bahwa banyak novel terasa seperti "nostalgia" (seperti yang ia sebutkan tentang John Banville atau Kiran Desai—yang sering salah disebut dengan ibunya, Anita Desai), saya rasa masalahnya bukan sekadar kurangnya lelucon.
- Generalisasi: Sebutan "novel sastra modern" itu sendiri terlalu luas untuk diringkas menjadi satu sifat saja.
- Fokus pada Penghargaan: Seringkali buku pemenang dipilih karena memenuhi standar "intelektual" tertentu, bukan karena keterbacaannya.
- Ketakutan akan Risiko: Penulis modern sering kali lebih takut dikritik daripada takut menjadi membosankan.
Masalah Sebenarnya: Korporatisasi dalam Dunia Sastra
Menurut pandangan saya, masalah yang lebih besar adalah budaya korporatisasi dalam produksi buku. Novel kini sering diproduksi dan diterima sebagai bagian dari "manajemen karier". Penulis menulis bukan karena ada sesuatu yang meledak di dalam dada yang harus dikeluarkan, melainkan untuk menjaga citra, memenangkan hibah, atau mempertahankan posisi di akademi.
Gough sendiri terjebak dalam pemikiran ini saat ia menyamakan vitalitas sebuah novel dengan daya tarik massa. Padahal, apakah sebuah novel harus populer untuk dianggap hidup? Tentu tidak. Kebebasan menulis justru terletak pada kemampuan penulis untuk tidak peduli pada pasar, bukan malah mengejar selera pasar agar dianggap "vital".
Tabel Perbandingan: Menulis untuk Karier vs Menulis untuk Jiwa
Untuk membantu Anda memahami perbedaan pendekatan ini, mari kita lihat tabel ringkasan di bawah ini:
| Aspek | Menulis untuk Karier (Korporatisasi) | Menulis untuk Jiwa (Kreativitas Murni) |
|---|---|---|
| Tujuan Utama | Memenangkan penghargaan, menjaga reputasi. | Mengekspresikan kebenaran emosional. |
| Gaya Bahasa | Seringkali rumit agar terlihat "intelektual". | Mengalir, personal, dan jujur (authenticity). |
| Target Audiens | Panel juri atau kritikus media besar. | Diri sendiri dan pembaca yang relevan. |
| Risiko | Tulisan menjadi kaku dan membosankan. | Mungkin tidak segera populer, tapi abadi. |
Akademisi dan Lorong Sempit "Creative Writing"
Gough juga menyalahkan institusi pendidikan, terutama kelas Creative Writing di Amerika Serikat (seperti Iowa Writers' Workshop), sebagai pabrik novel yang membosankan. Ia menganggap tempat-tempat ini menciptakan jalur institusional bagi penulis yang akhirnya hanya menulis tentang... penulis lain. "Writers began to write about writing," katanya.
Meskipun ada benarnya, argumen ini juga lemah. Penulis hebat seperti Philip Roth atau Robert Markson sering menulis tentang proses menulis, tapi karya mereka tetap luar biasa dan penuh energi. Jadi, akademisi bukanlah musuh utamanya. Musuh sebenarnya adalah hilangnya "kebodohan" yang jujur dalam proses kreatif.
Pesan dari Samuel Beckett: Menulislah dari Rasa "Bodoh"
Jika Kamu merasa buntu karena mencoba menulis sesuatu yang terlihat cerdas atau "sastra banget", ingatlah kata-kata legendaris dari Samuel Beckett. Ia mendapatkan terobosan kreatifnya saat ia mulai menyadari "kebodohannya".
Beckett berkata bahwa ia mulai menulis hal-hal yang benar-benar ia rasakan, bukan hal-hal yang menurut dunia harus ia tulis. Inilah inti dari kritik sastra modern yang sehat: lupakan kategori komedi, lupakan kategori tragedi. Tulis saja apa yang perlu Kamu tulis. Tulis apa yang Kamu rasakan di tulang-tulangmu.
Kesimpulan
Sastra modern tidak butuh lebih banyak komedi paksaan atau eksperimen yang sok pintar. Sastra modern butuh penulis yang berani tampil "bodoh", berani menjadi diri sendiri, dan berani menghancurkan ekspektasi korporat. Jangan menulis untuk memenangkan penghargaan; menulislah karena ada cerita di dalam dirimu yang menolak untuk tetap diam.
Apakah Kamu siap untuk melepaskan beban "harus terlihat cerdas" dan mulai menulis dengan jujur? Ingat, setiap kata yang Kamu tulis dengan jiwa akan menemukan pembacanya sendiri. Untuk Kamu yang ingin mendalami lebih lanjut tentang cara membangun narasi yang kuat dan ramah pembaca di dunia digital, silakan pelajari panduan konten kreatif yang solutif di sini.
Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh penulis.