Awalnya, saya memandang AI sebagai sesuatu yang menarik, tetapi terasa jauh dari ruang kelas. Teknologi yang sering dibicarakan di seminar, media, atau dunia industri sementara saya berdiri di kelas, berhadapan dengan siswa yang masih belajar memahami konsep dasar informatika. AI terdengar canggih, bahkan sedikit menakutkan, baik bagi siswa maupun guru.
Pandangan itu mulai berubah ketika saya mengikuti program Microsoft Elevate: AI for Educators.
Di sanalah saya menyadari bahwa AI tidak harus selalu rumit. AI bisa dikenalkan secara sederhana, kontekstual, dan yang terpenting: etis. Program ini membuka cara pandang baru bagi saya sebagai pendidik—bahwa AI bukan sekadar teknologi masa depan, melainkan alat pembelajaran yang bisa hadir hari ini, di kelas saya sendiri.
| Pelatihan yang Berdampak: AI dari Wacana Menjadi Praktik di Kelas |
Berbekal pemahaman tersebut, saya mulai memberanikan diri melangkah lebih jauh. Saya tidak ingin pelatihan ini berhenti pada sertifikat. Saya ingin ada aksi nyata. Maka, saya mulai melakukan pelatihan dan pengimbasan AI kepada siswa di lingkungan sekolah.
Yang terjadi di luar dugaan saya.
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat saya sadar: mereka tidak lagi melihat AI sebagai sesuatu yang harus ditakuti atau ditelan mentah-mentah. Mereka mulai berpikir kritis.
Di kelas, AI kemudian kami posisikan sebagai asisten belajar. Siswa menggunakan AI untuk merangkum materi, mencari ide proyek, atau membantu memahami konsep yang sulit—bukan untuk menyontek. Kami berdiskusi tentang etika, tanggung jawab, dan peran manusia dalam mengendalikan teknologi.
Suasana kelas pun berubah. Diskusi terasa hidup. Siswa saling berbagi pengalaman menggunakan AI, menceritakan kegagalan, keberhasilan, bahkan kebingungan mereka. Dari yang awalnya ragu dan takut, perlahan tumbuh rasa ingin tahu dan kepercayaan diri menghadapi perkembangan digital.
Bagi saya pribadi, inilah dampak paling nyata dari pelatihan tersebut. Microsoft Elevate bukan sekadar program peningkatan kompetensi, tetapi pemantik perubahan praktik mengajar saya sebagai guru informatika.
Saya semakin yakin bahwa di era AI, peran guru justru semakin penting. Bukan sebagai satu-satunya sumber jawaban, tetapi sebagai fasilitator, pembimbing, dan penjaga nilai. Guru hadir untuk memastikan teknologi digunakan secara bijak, manusiawi, dan bertanggung jawab.