Pelatihan yang Berdampak: AI dari Wacana Menjadi Praktik di Kelas

Pelatihan yang Berdampak: AI dari Wacana Menjadi Praktik di Kelas
Pelatihan yang Berdampak: AI dari Wacana Menjadi Praktik di Kelas

Awalnya, saya memandang AI sebagai sesuatu yang menarik, tetapi terasa jauh dari ruang kelas. Teknologi yang sering dibicarakan di seminar, media, atau dunia industri sementara saya berdiri di kelas, berhadapan dengan siswa yang masih belajar memahami konsep dasar informatika. AI terdengar canggih, bahkan sedikit menakutkan, baik bagi siswa maupun guru.

Pandangan itu mulai berubah ketika saya mengikuti program Microsoft Elevate: AI for Educators.

Di sanalah saya menyadari bahwa AI tidak harus selalu rumit. AI bisa dikenalkan secara sederhana, kontekstual, dan yang terpenting: etis. Program ini membuka cara pandang baru bagi saya sebagai pendidik—bahwa AI bukan sekadar teknologi masa depan, melainkan alat pembelajaran yang bisa hadir hari ini, di kelas saya sendiri.

Pelatihan yang Berdampak: AI dari Wacana Menjadi Praktik di Kelas
Pelatihan yang Berdampak: AI dari Wacana Menjadi Praktik di Kelas

Berbekal pemahaman tersebut, saya mulai memberanikan diri melangkah lebih jauh. Saya tidak ingin pelatihan ini berhenti pada sertifikat. Saya ingin ada aksi nyata. Maka, saya mulai melakukan pelatihan dan pengimbasan AI kepada siswa di lingkungan sekolah.

Saya memulainya dari hal paling dasar:
apa itu AI, bagaimana cara kerjanya secara sederhana, dan di mana saja AI hadir dalam kehidupan sehari-hari mereka—di ponsel, media sosial, aplikasi belajar, bahkan mesin pencari yang mereka gunakan setiap hari. Saya sengaja tidak langsung membahas hal teknis yang rumit, tetapi mengajak siswa memahami AI sebagai “alat bantu berpikir”, bukan “mesin ajaib pemberi jawaban”.

Yang terjadi di luar dugaan saya.

Siswa mulai aktif bertanya.
“Pak, kalau jawaban AI salah bagaimana?”
“Berarti kita nggak boleh langsung percaya, ya?”
“Kalau dipakai buat tugas, batasannya sampai mana?”

Pertanyaan-pertanyaan itu membuat saya sadar: mereka tidak lagi melihat AI sebagai sesuatu yang harus ditakuti atau ditelan mentah-mentah. Mereka mulai berpikir kritis.

Di kelas, AI kemudian kami posisikan sebagai asisten belajar. Siswa menggunakan AI untuk merangkum materi, mencari ide proyek, atau membantu memahami konsep yang sulit—bukan untuk menyontek. Kami berdiskusi tentang etika, tanggung jawab, dan peran manusia dalam mengendalikan teknologi.

Suasana kelas pun berubah. Diskusi terasa hidup. Siswa saling berbagi pengalaman menggunakan AI, menceritakan kegagalan, keberhasilan, bahkan kebingungan mereka. Dari yang awalnya ragu dan takut, perlahan tumbuh rasa ingin tahu dan kepercayaan diri menghadapi perkembangan digital.

Bagi saya pribadi, inilah dampak paling nyata dari pelatihan tersebut. Microsoft Elevate bukan sekadar program peningkatan kompetensi, tetapi pemantik perubahan praktik mengajar saya sebagai guru informatika.

Saya semakin yakin bahwa di era AI, peran guru justru semakin penting. Bukan sebagai satu-satunya sumber jawaban, tetapi sebagai fasilitator, pembimbing, dan penjaga nilai. Guru hadir untuk memastikan teknologi digunakan secara bijak, manusiawi, dan bertanggung jawab.

Karena pada akhirnya,
AI bukan pengganti guru. AI adalah alat. Dan guru adalah penentunya.

أحدث أقدم

Post Ad 1

Post Ad 2