Elara dan Adrian adalah sebuah mahakarya. Mereka duduk di sudut kedai kopi yang ramai itu, tampak seperti sepasang lukisan yang hidup. Elara dengan senyum semanis madu dan tatapan setajam belati. Adrian dengan postur tegap dan tutur kata yang terpoles sempurna. Mulut mereka adalah alat musik paling merdu, selalu memainkan nada yang ingin didengar oleh semua orang.
Bagi dunia, mereka adalah pasangan ideal—rekan kerja yang solid, sahabat yang setia. Pujian mengalir dari mulut mereka semudah air, membasahi siapa saja yang berada di dekatnya.
"Maya, sayang! Ya Tuhan, gaunmu cantik sekali! Warna itu benar-benar menonjolkan auramu," sapa Elara dengan hangat ketika seorang wanita menghampiri meja mereka.
Adrian menimpali dengan sigap, "Benar. Proyek yang kau pimpin kemarin juga luar biasa. Kami semua terkesan."
Maya tersipu, wajahnya berseri-seri karena sanjungan itu. Setelah beberapa menit percakapan yang manis, ia pun pamit pergi.
Hening sejenak. Elara menyesap latte-nya. Topeng porselen di wajahnya perlahan retak, digantikan oleh seringai tipis.
"Kau lihat sepatunya? Kuno sekali," desis Elara, suaranya kini terdengar kering dan tajam. Mulut yang tadinya memuji, kini berubah menjadi bilah pisau.
Adrian tertawa kecil, suara tawa yang hanya bisa mereka berdua pahami. "Proyeknya berhasil karena separuh idenya dia curi dariku. Dia bahkan tak sadar aku sengaja membiarkannya."
Mereka adalah seniman bermuka dua. Wajah pertama mereka perlihatkan pada dunia: penuh senyum, pujian, dan dukungan. Wajah kedua mereka simpan rapat-rapat, hanya untuk mereka berdua: penuh cemooh, racun, dan rencana licik. Mulut mereka adalah panggungnya, mampu berganti peran dalam sekejap mata.
Percakapan mereka beralih ke target berikutnya: Pak Bima, atasan mereka.
"Aku sudah menyiapkan laporan untuknya. Aku akan memuji visinya yang 'brilian' di depan semua orang besok pagi," kata Adrian sambil memutar-mutar cangkir kopinya.
"Bagus," sahut Elara. "Aku akan menambahkan bagaimana kepemimpinannya menginspirasi kita semua. Orang tua itu suka sanjungan. Setelah dia lengah, proyek besar itu pasti jatuh ke tangan kita."
Adrian tersenyum puas. "Duet yang sempurna."
Mulut mereka bekerja lagi, merangkai kata-kata palsu, membangun tangga menuju ambisi mereka dengan bahan baku kebohongan. Mereka begitu asyik dalam permainan mereka, hingga tidak menyadari ada sesosok bayangan yang berdiri diam di belakang pilar tak jauh dari meja mereka.
"Proyek 'warisan' itu? Ide kuno yang dipoles ulang. Tapi biarlah dia merasa seperti pahlawan," lanjut Adrian, merendahkan.
"Tepat. Kita hanya perlu memainkan peran kita dengan baik," timpal Elara.
Tiba-tiba, sebuah suara yang tenang namun berat memecah percakapan mereka.
"Terima kasih atas 'pujian'-nya, Adrian, Elara."
Keduanya membeku. Wajah mereka pucat pasi saat berbalik dan melihat Pak Bima berdiri di sana. Entah sudah berapa lama beliau di sana. Wajahnya tidak menunjukkan amarah, hanya kekecewaan yang mendalam.
"Saya jadi tahu persis di mana posisi saya... dan posisi kalian," lanjutnya, sebelum berjalan pergi tanpa sepatah kata pun lagi.
Dunia Elara dan Adrian runtuh dalam sekejap. Senjata andalan mereka—mulut mereka—telah menjadi bumerang yang menghancurkan mereka. Tidak ada lagi panggung untuk bersandiwara, tidak ada lagi penonton untuk dikelabui.
Kopi di meja mereka mendingin, tak tersentuh. Untuk pertama kalinya, di tengah keramaian kedai kopi itu, mulut mereka terkunci rapat. Topeng porselen mereka telah hancur berkeping-keping, memperlihatkan kehampaan yang selama ini mereka sembunyikan di baliknya.
0 Comment