| Silsilah yang Retak: Kisah Enam Pernikahan Ayah dan Warisan Luka dalam Kartu Keluarga |
Kertas itu sudah menguning di bagian tepi, dengan bekas lipatan yang nyaris robek dan selotip bening yang mulai kehilangan daya rekatnya. Di bagian atas tertera tulisan tegas: KARTU KELUARGA. Namun, bagi Satrio, lembaran itu lebih menyerupai sebuah naskah drama komedi putar yang melelahkan daripada sebuah dokumen negara yang sah. Nama-nama yang tercantum di sana berdesakan, saling tindih dengan status yang berubah-ubah antara "Anak", "Istri", hingga catatan kaki tentang perceraian yang tak pernah benar-benar selesai secara administratif.
Sore itu, udara di ruang tamu rumah ayahnya terasa pengap. Bau minyak kayu putih bercampur dengan aroma kretek murahan yang selalu mengepul dari sudut bibir lelaki tua itu. Ayahnya, Pak Baskoro, duduk di kursi rotan dengan kaki yang gemetar pelan. Di usianya yang ketujuh puluh, ia baru saja menikahi istrinya yang keenam—seorang janda dari desa seberang yang usianya lebih muda dari Satrio sendiri.
"Coba kau urus itu ke kantor kecamatan, Rio," suara Pak Baskoro serak, seolah-olah ada kerikil yang tersangkut di tenggorokannya. "Nama ibumu yang terakhir belum dihapus, dan istriku yang sekarang belum masuk. Orang-orang di sana bilang datanya acak-acakan."
Satrio menatap ayahnya tanpa ekspresi. Ia terbiasa dengan ini. Sejak kecil, ia melihat rumahnya seperti terminal bus; orang datang dan pergi, berganti koper, berganti janji, namun tujuannya tetap sama: mencari sesuatu yang tidak pernah mereka temukan. Pernikahan bagi ayahnya bukanlah sebuah pelabuhan, melainkan sekadar tempat pengungsian sementara dari rasa sepi yang akut.
"Bagaimana mau rapi, Pak? Anak-anakmu saja juga sama," sahut Satrio pelan, sambil melipat kembali kertas itu. "Mbak Lastri baru cerai bulan lalu, sekarang sudah bawa laki-laki lain ke rumah. Mas Danu juga belum jelas statusnya dengan istri keduanya di Kalimantan. Kita ini keluarga atau daftar tunggu di rumah sakit?"
Pak Baskoro hanya terbatuk, lalu memalingkan wajah ke arah jendela. Di luar, awan mendung menggantung rendah, seolah-olah langit pun enggan menyaksikan silsilah keluarga mereka yang centang-perenang.
Biografi di Balik Stempel Basah
Di kantor kecamatan, Satrio berdiri di depan loket pelayanan selama berjam-jam. Petugas administrasi, seorang pria muda dengan kemeja yang terlalu ketat, berkali-kali mengerutkan kening sambil menatap layar komputer dan tumpukan berkas di depannya. Ia tampak seperti seorang detektif yang sedang mencoba memecahkan kasus pembunuhan berantai, padahal ia hanya sedang melihat riwayat pernikahan Pak Baskoro.
"Mas, ini data Ayah Anda... kenapa istri ketiga dan keempatnya masih tercatat sebagai 'Kepala Keluarga' di alamat yang berbeda?" tanya petugas itu dengan nada bingung. "Lalu ini, adik Anda yang nomor empat, kok punya dua akta kelahiran dengan nama ayah yang berbeda?"
Satrio menarik napas panjang. Ia ingin menjelaskan bahwa hidup mereka memang tidak pernah memiliki struktur yang berkualitas secara hukum, namun ia terlalu lelah. Ia hanya ingin dokumen ini selesai agar ayahnya berhenti merongrongnya setiap malam. Ironis memang, ayahnya yang begitu lihai memikat hati wanita, ternyata tak berdaya di hadapan birokrasi negara yang kaku.
"Begitulah keadaannya, Mas. Bisa dibantu dirapikan saja?" Satrio mencoba tersenyum, namun senyumnya terasa tawar seperti sayur tanpa garam.
Petugas itu menggeleng-gelengkan kepala. "Ini butuh waktu lama, Mas. Kami harus memverifikasi satu per satu. Keluarga Anda ini... unik."
Satrio keluar dari kantor itu dengan perasaan hampa. Di kepalanya, ia membayangkan sebuah pohon keluarga. Pohon itu tidak tumbuh tegak ke atas, melainkan merambat liar di tanah, saling melilit, berduri, dan banyak dahan yang patah sebelum sempat berdaun. Ia teringat masa kecilnya, ketika ia harus memanggil "Ibu" kepada tiga wanita yang berbeda dalam kurun waktu lima tahun. Setiap ibu baru membawa harapan baru, namun selalu berakhir dengan koper yang dikemas di tengah malam dan isak tangis yang disamarkan oleh suara hujan.
Ia berjalan menuju warung kopi di seberang jalan. Di sana, ia melihat Mas Danu, kakak tertuanya, sedang duduk sambil asyik bermain ponsel. Mas Danu sudah menikah tiga kali. Setiap kali bercerai, ia akan kembali ke rumah ayah mereka, membawa tumpukan utang dan cerita tentang betapa egoisnya mantan-mantan istrinya.
"Bagaimana, Rio? Sudah beres?" tanya Danu tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
"Belum. Rumit sekali. Nama istrimu yang kedua masih nyangkut di kartu keluarga kita," kata Satrio sambil memesan kopi hitam.
"Ah, biarkan saja. Dia juga sudah nikah lagi sama orang Lampung. Aku tidak peduli lagi soal dokumen-dokumen itu," sahut Danu enteng. "Yang penting sekarang aku bebas. Hidup itu harus dinikmati, Rio. Jangan kaku seperti buku panduan mesin."
Satrio menatap kakaknya dengan iba. Danu adalah fotokopi sempurna dari ayah mereka. Mereka mengejar kebahagiaan seolah-olah kebahagiaan adalah sesuatu yang bisa dibeli di toko kelontong. Mereka tidak sadar bahwa setiap kali mereka "nikah-cerai", ada potongan kecil dari jiwa mereka yang tertinggal dan membusuk.
Perjamuan di Tengah Kekacauan
Malam harinya, rumah Pak Baskoro ramai. Bukan karena ada pesta, melainkan karena Mbak Lastri datang membawa calon suami barunya—seorang pria yang tampak canggung dan terus-menerus membetulkan letak kacamatanya. Istri keenam ayahnya, Siti, sedang sibuk di dapur menyiapkan makan malam sederhana. Suasana di meja makan terasa sangat aneh. Ada ketegangan yang subtil, sebuah subteks yang berteriak bahwa mereka semua sedang berpura-pura menjadi keluarga yang normal.
"Jadi, Mas... siapa namanya tadi? Mas Hadi ya?" Pak Baskoro bertanya sambil menyendok nasi. "Pekerjaannya apa?"
"Saya honorer di dinas perhubungan, Pak," jawab pria itu sopan.
"Bagus. Yang penting kerjanya tetap dan berkualitas hasilnya," ujar Pak Baskoro, seolah-olah ia sendiri adalah pria yang paling stabil di dunia. "Lastri ini orangnya keras hati, tapi kalau sudah sayang, dia akan memberikan segalanya. Persis seperti ibunya yang kedua... eh, maksudku ibunya yang pertama."
Lastri hanya mendengus. Ia tahu ayahnya bahkan sering tertukar nama ibunya sendiri dengan nama ibu anak-anaknya yang lain. Di meja itu, Satrio merasa seperti orang asing. Ia melihat adik-adik tirinya yang masih kecil, hasil dari pernikahan kelima ayahnya, sedang berebut lauk. Mereka tidak tahu apa-apa tentang keruwetan administratif yang sedang Satrio perjuangkan. Mereka hanya tahu bahwa ayah mereka punya istri baru yang baik hati dan sering membelikan mereka permen.
"Kapan rencana menikahnya, Las?" tanya Siti, istri keenam itu, dengan nada yang dibuat seakrab mungkin.
"Bulan depan, Ti. Sederhana saja di KUA. Yang penting sah," jawab Lastri pendek.
Satrio tiba-tiba merasa mual. Ia meletakkan sendoknya. "Bagaimana mau sah kalau akta ceraimu yang terakhir saja belum keluar dari pengadilan agama? Mas Hadi tahu kalau Mbak Lastri ini secara hukum masih istri orang?"
Meja makan itu seketika sunyi. Mas Hadi menoleh ke arah Lastri dengan wajah pucat. Lastri menatap Satrio dengan kemarahan yang meluap-luap. Pak Baskoro terbatuk-batuk, sementara Siti pura-pura sibuk menuangkan air minum.
"Rio, jangan mulai," desis Lastri. "Itu urusan gampang. Bisa diselesaikan lewat orang dalam."
"Semua urusan di keluarga ini selalu dianggap gampang sampai akhirnya numpuk jadi sampah di kantor kecamatan!" Satrio berdiri, suaranya naik satu oktav. "Kalian semua hidup seperti tidak punya jejak. Menikah, cerai, lalu buat anak lagi tanpa peduli bagaimana masa depan identitas mereka. Kartu keluarga kita itu lebih mirip daftar menu makanan daripada identitas keluarga yang berkualitas!"
Ia berjalan keluar rumah, meninggalkan keheningan yang memekakkan telinga. Ia butuh udara segar. Ia butuh sesuatu yang nyata, sesuatu yang tidak berubah setiap kali musim berganti.
Ending yang Menggantung di Balik Gerimis
Hujan rintik-rintik mulai turun membasahi aspal jalanan. Satrio duduk di kursi panjang di taman depan komplek. Ia mengeluarkan dompetnya, mengambil Kartu Tanda Penduduk miliknya. Di sana tertulis statusnya: "Belum Kawin". Di usianya yang sudah tiga puluh lima tahun, ia adalah satu-satunya di keluarga itu yang belum pernah mengucap akad. Bukan karena ia tidak laku, melainkan karena ia takut.
Ia takut bahwa setiap kali ia mencintai seseorang, ia akan mewarisi kutukan ayahnya. Ia takut bahwa komitmen hanyalah kertas tipis yang mudah robek oleh angin pertengkaran yang sepele. Ia melihat lampu-lampu rumah tetangga yang berpijar hangat, membayangkan di dalam sana ada keluarga yang makan malam tanpa rahasia administratif, tanpa bayang-bayang mantan istri atau suami yang berseliweran seperti hantu.
Dari kejauhan, ia melihat ayahnya berjalan perlahan keluar dari pagar rumah, mengenakan jaket tua yang kedodoran. Lelaki tua itu mendekati Satrio, lalu duduk di sampingnya tanpa bicara. Mereka berdua terdiam dalam dinginnya malam, hanya suara rintik hujan yang mengisi celah di antara mereka.
"Kau tahu, Rio," kata Pak Baskoro akhirnya, suaranya terdengar sangat letih. "Aku tidak pernah berniat menyusahkanmu. Aku hanya tidak tahan sendirian. Rasanya seperti mati sebelum waktunya kalau tidak ada suara perempuan di dalam rumah."
Satrio tidak menoleh. "Tapi Bapak juga tidak pernah benar-benar ada saat mereka ada, Pak. Bapak cuma butuh kehadirannya, bukan jiwanya. Itu sebabnya semuanya selalu berakhir berantakan."
Pak Baskoro menghela napas, uap putih keluar dari mulutnya. "Mungkin kau benar. Mungkin aku memang egois. Tapi lihatlah dirimu... kau sendirian. Apakah itu lebih baik daripada aku yang punya banyak orang di sekitarku meskipun semuanya kacau?"
Satrio terdiam. Pertanyaan itu menghunjam tepat di ulu hatinya. Apakah kesendirian yang rapi lebih mulia daripada kebersamaan yang berantakan? Ia memandangi tangannya yang kosong. Ia merasa seperti selembar kertas putih yang bersih, namun tak memiliki tulisan apa pun—tidak ada cerita, tidak ada sejarah, hanya kekosongan yang steril.
"Aku tidak tahu, Pak," jawab Satrio lirih. "Aku hanya ingin suatu saat nanti, kalau aku punya keluarga, nama mereka tercantum di atas kertas yang kuat, yang tidak perlu diselotip atau diganti setiap tahun."
Ayahnya menepuk bahu Satrio dengan tangannya yang keriput. Sebuah gerakan yang jarang ia lakukan. "Uruslah kertas itu besok. Masalah biaya, nanti biar Bapak yang cari jalan."
Pak Baskoro bangkit dan berjalan kembali menuju rumah, langkahnya gontai dan punggungnya bungkuk, memikul beban dari enam kehidupan yang gagal ia satukan. Satrio tetap duduk di sana, membiarkan gerimis membasahi wajahnya. Ia teringat petugas kecamatan tadi siang. Mungkin besok ia akan kembali lagi, membawa tumpukan kebohongan dan kekacauan keluarganya, mencoba sekali lagi merapikan silsilah yang sudah lama retak.
Di dalam rumah, terdengar suara tawa anak-anak kecil dan suara piring yang beradu. Hidup memang tetap berjalan, seacak-acakan apa pun dokumen yang mencatatnya. Satrio menatap ke langit hitam, bertanya-tanya apakah suatu hari nanti ia akan menemukan keberanian untuk menuliskan satu nama saja di bawah namanya sendiri, tanpa takut kertas itu akan berakhir di tempat sampah birokrasi.
Angin malam berembus kencang, menerbangkan beberapa lembar daun kering di kakinya. Satrio bangkit, melangkah perlahan menuju pintu rumah yang lampunya mulai meredup. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak, menoleh ke belakang seolah-olah ia sedang menunggu seseorang yang tak akan pernah datang. Lalu, ia menutup pintu itu dengan pelan, membiarkan dunia luar tetap sunyi, sementara di dalam, kekacauan keluarga Baskoro sedang bersiap untuk babak baru yang entah kapan akan berakhir.