Rute yang Tidak Jadi Kami Ambil - Esai Kontemplatif

Rute yang Tidak Jadi Kami Ambil - Esai Kontemplatif
Rute yang Tidak Jadi Kami Ambil - Esai Kontemplatif

Harusnya mengajak dua anakku dan istriku. Kalimat itu muncul bukan sebagai teriakan, melainkan sebuah bisikan yang merambat di sela-sela lipatan kesadaran. Ia terdengar sederhana, nyaris remeh, seperti butiran debu yang menari di bawah sorot lampu meja yang temaram. Namun, di kepalaku, ia bergema lebih lama daripada yang seharusnya.

Ada banyak hal yang tidak terucap di sana—sebuah spektrum emosi yang terdiri dari rasa bersalah yang berwarna kelabu, rasa ingin yang biru, dan sedikit rasa kehilangan yang belum sempat diberi nama; transparan namun menyesakkan, seperti udara yang terlalu tipis di puncak gunung.

Aku telah membangun sebuah maket di dalam benak. Sebuah simulasi tentang perjalanan yang ideal. Aku membayangkan kami berempat bergerak dalam satu ritme yang harmonis, melintasi aspal yang membelah hijau pepohonan. Bukan ke tempat yang istimewa sebenarnya, cukup ke mana saja asal garis koordinat kami bertemu di satu titik yang sama. Karena kadang, dalam pengembaraan manusia, yang kita cari bukanlah eksotisme destinasi, melainkan perasaan utuh.

Fragmen Jeda dan Keheningan

Namun hidup, seperti biasa, memiliki selera humor yang getir. Ia seringkali menggeser peta batin kita tanpa meminta persetujuan kita sebagai pemegang kemudi. Rencana yang telah disusun rapi mendadak luruh, menyisakan reruntuhan ekspektasi yang harus segera kubersihkan.

Istriku tidak sedang baik-baik saja. Ada mesin di dalam tubuhnya yang sedang menuntut hak untuk mendingin. Sel-selnya sedang melakukan negosiasi ulang dengan kesehatan, meminta lebih banyak diam daripada gerak, lebih banyak ruang gelap daripada binar matahari yang menyengat.

Referansi: Antoine de Saint-Exupéry, The Little Prince
“You become responsible, forever, for what you have tamed.” — Antoine de Saint-Exupéry, The Little Prince

Cinta memang tidak pernah netral. Ia adalah zat aktif yang mengubah pemberinya. Ia selalu datang bersama paket tanggung jawab yang beratnya tidak selalu konstan. Menjinakkan berarti mengikatkan nasib. Ketika aku memutuskan untuk membangun rumah tangga, aku bukan hanya menandatangani dokumen negara, tapi aku menyerahkan sebagian dari kemerdekaan bergerakku untuk ditukarkan dengan kemerdekaan untuk saling menjaga.

Makna di Balik Ketidakberdayaan

Aku tidak membawa mereka ke pantai untuk mendengar debur ombak yang menghapus jejak kaki. Aku hanya tinggal. Menjadi hadir secara penuh. Menjadi saksi atas setiap tarikan napas dan setiap sendok obat yang tertelan dengan susah payah.


Referensi: Viktor E. Frankl, Man’s Search for Meaning
“Life is never made unbearable by circumstances, but only by lack of meaning.” — Viktor E. Frankl, Man’s Search for Meaning

Keadaan kami sekarang mungkin dianggap "tidak ideal" oleh standar produktivitas modern yang memuja pergerakan. Namun, keadaan ini tidak menjadi tak tertahankan karena aku menemukan maknanya. Makna bahwa kebersamaan tidak selalu harus bergerak linear. Kadang ia melingkar, kadang ia berputar di tempat, dan menerima bahwa cinta tidak selalu membutuhkan pemandangan baru untuk tetap hidup.

Tentang Rumah dan Alasan Kita Bekerja

Referensi: Leo Tolstoy, Anna Karenina
"Kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam kemegahan dunia yang fana, melainkan dalam kerukunan yang tenang di bawah atap rumah sendiri." — Leo Tolstoy, Anna Karenina

Kita seringkali terjebak dalam paradoks: bekerja keras demi keluarga hingga kehilangan waktu untuk keluarga itu sendiri. Liburan yang batal ini adalah pengingat keras bagiku. Bahwa istri dan anak-anakku bukanlah "penumpang" dalam hidupku; mereka adalah alasan mengapa aku membangun kapal ini sejak awal.

Referensi: Mitch Albom, Tuesdays with Morrie
"Kenyataannya adalah, tidak ada fondasi yang lebih kokoh selain keluarga. Jika kau tidak memiliki dukungan, kasih sayang, dan perhatian dari keluarga, maka sesungguhnya kau tidak memiliki apa pun." — Mitch Albom, Tuesdays with Morrie

Memilih Tempat Pulang

Harusnya mengajak dua anakku dan istriku. Ya. Aku masih mengakuinya sebagai sebuah keinginan yang manusiawi, sebuah mimpi kecil yang harus aku tunda dan simpan rapi di dalam laci doa.

Namun hari ini, di ruang tengah yang hanya diterangi lampu temaram, aku mengerti. Ada waktu untuk berjalan menantang cakrawala, dan ada waktu untuk diam, menjadi jangkar bagi satu sama lain. Karena pada akhirnya, rute hidup boleh berubah, asal kami tetap memilih satu sama lain sebagai satu-satunya tempat untuk pulang.

Sebab "pulang" bukanlah sebuah alamat. Pulang adalah sebuah frekuensi yang kita temukan pada orang-orang yang tetap memegang tangan kita, bahkan ketika kita tidak sedang menuju ke mana-mana.

Post a Comment

Previous Post Next Post