Di negeri ini, kita sedang menyaksikan sebuah perlombaan yang ganjil dan nyaris tak disadari bahayanya. Di sepanjang jalan protokol hingga pelosok desa, beton tumbuh lebih cepat daripada pohon jati. Gedung-gedung sekolah berdiri megah dengan cat warna-warni, pagar besi tinggi, dan spanduk bertuliskan “sekolah unggulan” atau “menuju sekolah berstandar nasional”. Namun, mari berhenti sejenak dan bertanya dengan jujur: di mana buku hidup ketika lonceng sekolah berhenti berdentang?
Menara Gading di Atas Tanah yang Haus
Kita sedang terjebak dalam fetisisme pembangunan fisik. Pendidikan direduksi menjadi bangunan, bukan kebudayaan. Kita membangun kuil-kuil institusi yang megah, tetapi membiarkan masyarakat di sekitarnya kelaparan akses bacaan, diskusi, dan ruang belajar mandiri. Inilah ironi yang nyaris banal: sekolah tumbuh bak jamur, sementara Taman Baca Masyarakat (TBM), perpustakaan desa, dan ruang literasi nonformal justru meranggas, hidup segan mati tak mau.
Obsesi Institusi dan Hilangnya Ruang Merdeka
Pramoedya Ananta Toer, melalui Bumi Manusia, menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar soal ijazah, melainkan keberanian untuk berpikir adil sejak dalam pikiran. Pendidikan adalah pembebasan kesadaran. Namun, wajah pendidikan kita hari ini lebih menyerupai apa yang oleh Paulo Freire disebut sebagai “banking education”: sekolah menjadi tempat penyimpanan kepatuhan, bukan ruang dialog kritis.
Sekolah dibangun sebagai institusi formal yang kaku, penuh aturan, seragam, dan sanksi. Di saat yang sama, ruang-ruang belajar yang organik—TBM, perpustakaan desa, rumah baca, lapak literasi—justru menjadi anak tiri dalam kebijakan publik. Anggaran negara dan daerah cenderung memihak pada tembok dan atap, bukan pada isi dan kehidupan intelektual di dalamnya.
Padahal, literasi sejatinya tumbuh di luar jam pelajaran. Ia hidup di sela-sela waktu luang, di obrolan santai, di ruang tanpa penilaian. Di situlah TBM dan perpustakaan komunitas seharusnya berperan.
Data Bicara: Melek Aksara Tinggi, Akses Membaca Rendah
Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM), tingkat melek aksara Indonesia memang telah mendekati 100%. Namun, indikator ini menipu jika dibaca secara dangkal. Melek aksara tidak otomatis berarti masyarakat pembaca.
Data Perpustakaan Nasional RI (2023) menunjukkan bahwa:
- Indeks Kegemaran Membaca (IKM) nasional berada di kisaran 63–64, kategori sedang.
- Komponen terlemah justru ada pada akses masyarakat terhadap perpustakaan, terutama di desa dan wilayah 3T.
- Sebagian besar anggaran pendidikan daerah (hingga ±70–80%) terserap pada rehabilitasi fisik sekolah, bukan pengembangan koleksi buku, pelatihan pustakawan, atau aktivasi TBM.
Survei World’s Most Literate Nations (Central Connecticut State University) bahkan menempatkan Indonesia di posisi bawah dalam minat baca, meskipun secara infrastruktur pendidikan formal kita relatif berkembang. Ini menguatkan satu kesimpulan: masalah kita bukan kemampuan membaca, melainkan ekosistem membaca.
Perpustakaan Sekolah dan Desa: Ada, Tapi Belum Ideal
Mari kita jujur melihat kondisi di lapangan.
1. Perpustakaan Sekolah
Di banyak daerah, perpustakaan sekolah:
- Hanya berfungsi sebagai ruang administrasi buku paket
- Jam bukanya terbatas, sering terkunci di luar jam pelajaran
- Koleksi tidak diperbarui, didominasi buku lama dan wajib kurikulum
- Tidak dikelola pustakawan profesional, melainkan guru rangkap tugas
Alih-alih menjadi pusat literasi, perpustakaan sekolah sering berubah menjadi gudang buku yang steril dari kehidupan intelektual. Anak-anak belajar bahwa buku adalah benda yang harus dijaga rapi, bukan disentuh bebas.
2. Perpustakaan Desa dan TBM
Sementara itu, banyak perpustakaan desa dan TBM:
- Dibangun sebagai proyek seremonial
- Tidak memiliki anggaran operasional rutin
- Bergantung pada relawan tanpa insentif
- Tidak terintegrasi dengan kegiatan desa (PKK, karang taruna, UMKM)
Akibatnya, TBM mudah mati pelan-pelan. Padahal, riset UNESCO dan IFLA menegaskan bahwa community-based library adalah kunci keberhasilan literasi di negara berkembang karena fleksibel, inklusif, dan kontekstual.
Literasi sebagai Urusan Rasa, Bukan Sekadar Angka
Boy Candra mengingatkan kita bahwa literasi bukan hanya urusan logika, tapi juga urusan rasa dan kebermaknaan. Anak-anak muda kita mungkin bersekolah, tetapi banyak dari mereka kehilangan tempat pulang secara intelektual. Mereka butuh ruang yang hangat, tidak menghakimi, dan tidak menakutkan.
Dalam perspektif Dee Lestari, ini adalah kegagalan membangun “struktur atom pengetahuan”. Sekolah adalah molekul besar yang kaku; TBM adalah partikel bebas yang bisa masuk ke celah kehidupan warga. Tanpa partikel ini, ilmu hanya mengendap di gedung, tidak pernah mengalir menjadi budaya.
Menuju Literasi yang Membumi dan Berkeadilan
Jika kita serius ingin membangun masa depan, maka pembangunan pendidikan harus melampaui beton. Beberapa langkah strategis yang mendesak dilakukan:
- Alokasi wajib Dana Desa untuk operasional TBM, bukan hanya bangunan
- Integrasi perpustakaan sekolah dengan masyarakat, dibuka setelah jam pelajaran
- Profesionalisasi pustakawan desa dan relawan literasi, dengan insentif layak
- Pemutakhiran koleksi berbasis kebutuhan lokal: pertanian, kesehatan, UMKM, parenting
- Menjadikan TBM sebagai pusat kebudayaan desa, bukan sekadar rak buku
Melawan Menara Gading dengan Akar
Gedung sekolah yang megah mungkin membuat kita bangga di hadapan tamu asing. Namun, Taman Baca yang hidup di gang sempit, di balai desa, dan di sudut kampung adalah yang akan membuat anak-anak kita tegak menghadapi dunia.
Jangan biarkan negeri ini hanya menjadi deretan menara gading di atas tanah yang kering kerontang akan imajinasi. Karena bangsa yang besar bukan hanya yang pandai membangun gedung, tetapi yang mampu menumbuhkan pikiran warganya dari akar rumput.