Cerita Rakyat Batuwangi

By Admin - August 24, 2025

Cerita Rakyat Batuwangi

Desa Singajaya, dengan hamparan sawah dan pegunungan yang memeluknya, menyimpan sebuah kisah yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Kisah itu bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan sebuah petuah kehidupan yang bersemayam dalam ingatan masyarakat: cerita rakyat Batuwangi. Kisah ini mengajarkan kita tentang bahaya kesalahpahaman dan kemarahan yang dapat menghancurkan segalanya.

Pesta yang Berujung Tragedi

Alkisah, hiduplah seorang tokoh agama yang dihormati di Singajaya, bernama Mbah Dalem. Beliau adalah sosok panutan yang dikenal bijaksana, dan memiliki dua orang anak—seorang putra dan seorang putri. Saat putrinya menikah dengan seorang pemuda gagah dari Tasikmalaya, Mbah Dalem menggelar pesta pernikahan besar-besaran, penuh sukacita dan tradisi.

Rangkaian acara pernikahan berjalan lancar, dimulai dari huap lingkung yang penuh kehangatan hingga tibalah saatnya pabetot-betot bakakak hayam, sebuah tradisi di mana kedua mempelai menarik ayam bakar sebagai simbol rezeki. Namun, di tengah riuh tawa dan semangat, takdir berbelok. Kepala ayam yang ditarik dengan kuat pecah, dan noda kuah menodai gaun pengantin sang putri, tepat di bagian dada.

Panik melanda. Pengantin wanita cemas gaunnya akan rusak. Melihat adiknya gelisah, sang kakak segera menghampiri untuk membantu membersihkan noda. Namun, niat baiknya disalahpahami oleh pengantin pria.

Kesalahpahaman dan Kemarahan

Melihat pemandangan itu, sang pengantin pria merasa tidak dihargai dan amarah menyelimuti hatinya. Ia merasa cemburu dan menganggap perbuatan kakak iparnya tidak pantas. Sang kakak dan pengantin wanita berusaha menjelaskan. Mereka berulang kali meyakinkan bahwa itu hanyalah upaya membersihkan noda, bukan perbuatan buruk.

"Dia hanya membantuku! Jangan salah paham," pinta sang pengantin wanita putus asa.

Namun, amarah telah menguasai logika pengantin pria. Kata-kata penjelasan seakan tertelan oleh kebencian yang membuta. Pertengkaran pun tak terhindarkan. Suara tawa berubah menjadi teriakan marah. Sang kakak, yang awalnya berusaha sabar, akhirnya terpancing emosi karena penjelasannya terus diabaikan. Kedua pria itu terlibat dalam perkelahian yang sengit, disaksikan oleh para tamu yang terkejut.

Pengantin wanita berusaha melerai, namun tenaganya tak cukup untuk memisahkan dua pria yang terbakar amarah. Pertengkaran itu semakin beringas, hingga akhirnya, kedua pria yang seharusnya menjadi bagian dari keluarga, saling bunuh. Pesta yang seharusnya menjadi awal dari kebahagiaan, berakhir dalam genangan darah dan air mata.


Sumpah yang Terus Dijaga

Tragedi itu menghancurkan hati Mbah Dalem. Dalam sekejap, ia kehilangan kedua buah hatinya karena kesalahpahaman yang berujung fatal. Hancur luluh oleh duka, Mbah Dalem bersumpah. Demi mengenang tragedi itu, ia dan tujuh keturunannya tidak akan pernah memakan kepala ayam. Barang siapa yang melanggar sumpah ini, diyakini akan mengalami nasib buruk.

Hingga kini, di desa Singajaya, sumpah itu masih dijunjung tinggi. Keturunan Mbah Dalem dapat dengan mudah dikenali, dan mereka masih menghormati janji leluhur mereka. Kisah Batuwangi ini terus diceritakan, bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk mengingatkan setiap orang bahwa kesalahpahaman kecil, jika tidak segera diselesaikan, bisa memicu amarah dan menyebabkan kehancuran yang tak terbayangkan.

  • Share:

You Might Also Like

0 Comment